The Agony of Modernization

PSIKOTERAPI DAN  “THE AGONY OF MODERNIZATION”

 

Di era modern yang penuh diwarnai dengan iklim “kompetisi” ini, manusia seringkali terperangkap ke dalam sebuah situasi dimana mereka terlalu mengedepankan atau berpacu dalam sikap-sikap “Bagimana untuk memiliki sesuatu” (to have) dan lebih sering mengabaikan “Bagaimana menjadi sesuatu” (to be). Pola seperti inilah yang kemudian melemparkan manusia modern ke dalam keterasingan akan “kemanusiaan-nya”, kehilangan ciri-ciri humanisnya.

PENDAHULUAN

Ivan Illich menggambarkan potret kehidupan dunia modern, bahwa telah lahir manusia-manusia yang memiliki sifat rakus, dipenuhi iri hati, dan memiliki niat jahat dan mudak kehilangan kontrol.Sifat-sifat yang demikian itu akan dengan mudah menyulut motif untuk saling menjatuhkan atau menghancurkan. Motif untuk saling menjatuhkan, bahkan menghancurkan, ini bisa lahir karena keirian satu sama lain, kesalah-pahaman, atau karena ancaman.. Siapa yang mengancam atau atas ukuran-ukuran apa masing-masing pihak merasa dirinya terancam atau perlu mengancam, berbagai alasan mudah bisa saja diajukan. Dan alasan-alasan yang diajukan biasanya tendensius dan bersifat sepihak.[1] Kegelisahan, kecemasan yang berujung pada perilaku destruktif yang dilakukan oleh seorang individu pada zaman modern ini seringkali dipicu oleh hal-hal yang sepele. Bagaimana seseorang tega membunuh kawan akrabnya hanya karena dikatakan “pengecut”, atau kernet Angkot yang membunuh sopirnya karena permintaan kenaikan upah sebesar Rp. 500,- tidak dipenuhi. Di sisi kehidupan lain bisa disaksikan, banyaknya penyimpangan perilaku seksual; dimana sang ayah menggauli putri kandungnya sendiri, penyalahgunaan Narkoba dan sebagainya.

Fenomena tersebut dimungkinkan muncul karena akselerasi ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini telah mengubah secara drastis pola hidup dan perilaku manusia modern. Di era modern yang penuh diwarnai dengan iklim “kompetisi” ini, manusia seringkali terperangkap ke dalam sebuah situasi dimana mereka terlalu mengedepankan atau berpacu dalam sikap-sikap “Bagimana untuk memiliki sesuatu” (to have) dan lebih sering mengabaikan “Bagaimana menjadi sesuatu” (to be). Pola seperti inilah yang kemudian melemparkan manusia modern ke dalam keterasingan akan “kemanusiaan-nya”, kehilangan ciri-ciri humanisnya.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada hakekatnya dimaksudkan untuk memudahkan dan menyejahterakan manusia. Namun demikian tidak bisa dihindarkan munculnya ekses-ekses negatif dari kemajuan tersebut. Irama dan pola kehidupan sebagaimana tergambar pada paragraph di atas, pada gilirannya melahirkan problem-problem, bahkan penyakit-penyakit, psikis yang akut. Penyakit-penyakit kejiwaan tersebut selanjutnya terejawantahkan ke dalam bentuk-bentuk perilaku menyimpang maupun tindak-tindak kriminal, seperti; depresi mental, stress, hingga bunuh diri, penganiayaan, perampokan, pelanggaran atas hak orang lain, prostitusi serta pembunuhan, lunturnya nilai-nilai social dan “keterasingan manusia”. Jika diamati, maka akan dapat ditemukan bahwa perilaku menyimpang serta tindak-tindak kriminal yang marak terjadi belakangan ini mengalami peningkatan pesat baik dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Beberapa problematika sebagai efek samping dari proses modernisasi tersebut biasa diistilahkan dengan “the agony of modernization” (azab yang ditimbulkan dari proses modernisasi).

Problem-problem tersebut pada dasarnya disebabkan oleh kegelisahan, kecemasan dan tekanan-tekanan dalam kehidupan, yang berakibat pada rentannya kondisi kejiwaan manusia. Ketika mendapatkan tekanan tersebut secara alamiah dia akan melakukan perlawanan atau kontrol. Namun ketika tekanan demi tekanan sudah terakumulasi sedemikian besar, maka beberapa di antaranya dapat mengatasinya dengan baik dan menempuh jalan yang baik pula, namun beberapa lainnya gagal karena menempuh jalan yang kurang atau tidak baik. Kenyataan seperti itulah yang kemudian menarik para ahli yang bergerak di lapangan kejiwaan (psikologi) untuk merancang dan menawarkan berbagai konsep atau langkah preventif maupun kuratif terhadap persoalan tersebut.

THE AGONY OF MODERNIZATION

            Akselerasi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di samping membawa manfaat, di sisi lain mengharuskan manusia harus “membayar mahal” atas dampak negatif yang ditimbulkannya. Disadari atau tidak, secara berangsur-angsur telah terjadi pergeseran-pergeseran nilai, sebagai akibat kontak yang sedemikian intens antara manusia dengan ilmu dan teknologi, berikut produknya. Pergeseran demi pergeseran tersebut lambat-laun memperoleh “pembenaran” dari komunitas manusia modern. Beberapa pergeseran nilai yang merupakan side effect dari proses modernisasi tersebut antara lain :

Kompetisi

Teknologi sebagai bagian dari peradaban manusia, saat ini terus berkembang pesat. Produk-produk baru yang dapat dihasilkan pada saat/hari ini bisa dinilai “ketinggalan zaman” pada keesokan harinya. Hal ini dimungkinkan  karena adanya hubungan yang komplementer antara penyerapan dan penguasaan teknologi dengan pesatnya arus informasi.

Pada era saat ini keunggulan komparatif dan kompetitif menjadi prasyarat utama untuk memenuhi tuntutan prestasi atau mutu suatu produk. Kecepatan dan akurasi menjadi standard utama dalam banyak sisi kehidupan. Prasyarat semacam ini telah dengan cepat mempengaruhi dan merubah perilaku masyarakatnya. Persaingan ketat terjadi di semua sektor. Bahkan persaingan ketat ini acapkali menjurus ke arah yang sudah tidak sehat. Dapat dilihat dalam banyak kasus di masyarakat, dimana para orangtua sejak dini telah mengkondisikan anak-anak mereka ke dalam iklim persaingan yang “sengit”. Banyak di antara mereka menuntut (untuk tidak mengatakan memaksa) anak-anak mereka masuk ke sekolah-sekolah favorit, tanpa mempedulikan kemampuan dan kemauan mereka. Bahkan tidak jarang para orangtua rela mengeluarkan “uang ekstra” untuk maksud tersebut.

Adalah menarik membaca laporan majalah TIME awal Januari 1999, tang menyatakan bahwa sekitar 50.000 anak-anak di Jepang mengidap semacam penyakit kejiwaan (syndrome) yang disebut oleh kalangan ahli sebagai “fobi sekolah”. Sindrom ini adalah semacam gejala dan tingkah laku yang mencerminkan rasa takut terhadap sekolah. Anak-anak yang seharusnya sekolah tidak mau hadir ke sekolah, bahkan lebih parah lagi, mereka mengasingkan diri dari lingkungan pergaulan di sekolah. Terkadang mereka mengunci diri di kamar mandi atau di ruang gelap karena takut pada situasi kelas dan sekolah. Menurut para psikolog dan ahli pendidikan di Jepang, penyakit itu timbul karena belenggu sistem sekolah yang amat ketat di negara itu.[2] Jika sudah sedemikian kondisinya, maka inilah harga yang harus dibayar oleh para orangtua maupun lembaga pendidikan pada umumnya akibat “pemerkosaan” mereka terhadap anak. Karena di balik semua itu, sebenarnya hanyalah untuk memenuhi ambisi dan prestige semata.

Kondisi tersebut masih diperparah oleh munculnya filosofi katak (sikut atas, tendang bawah) dalam upaya memenuhi ambisi dan gengsi tersebut. Dari gambaran semacam itu, maka tidak heran jika produk persaingan ketat dan tidak sehat ini pada gilirannya akan menghasilkan manusia-manusia dengan filosifi katak pula dalam menjalani kehidupannya. Adalah dipandang sebagai sesuatu yang menggelikan dan janggal, ketika seseorang berusaha mengalahkan ambisi pribadinya pada kesempatan tertentu demi kebahagiaan orang lain dalam rangka membangun kebersamaan.

Konformitas

            Ciri lain dari manusia modern adalah sikap atau semangat “Konformitas” (Conformity berarti “persesuaian, kecocokan”)[3]  yang membabi buta. Sedangkan dalam istilah psikologi Konformitas berarti “anak masuk ke dalam golongan yang serupa dengan golongan orangtuanya, bukan hanya anak harus merupakan duplikat dari orangtuanya semata”.[4]

            Dalam konteks ini, konformitas membabi buta yang terjadi di dalam masyarakat telah menjadi semacam endemi (wabah) yang cukup akut. Sehingga berkembang luas duplikasi dalam semua tingkatan stratifikasi sosial masyarakat. Seseorang akan merasa gelisah dan cemas ketika dia tidak konform dengan “sistem besar” yang sedang berlaku di dalam masyarakat. Sebagai misal; orang akan merasa gelisah, kemrungsung dan merasa hidupnya belum lengkap ketika ia tidak/belum bisa memiliki barang-barang konsumtif yang mereka sebut sebagai “standard hidup modern”. Seorang pejabat atau pengusaha akan merasa kikuk dan malu jika tidak punya mobil mewah, atau siswa yang stress berat ketika salah satu nilai rapornya “merah” jauh di bawah nilai rata-rata kelas, meskipun ia unggul di bidang lainnya.

            Munculnya kecenderungan yang besar untuk “ikut arus” yang dalam istilah Jawa dinyatakan “hamenangi jaman edan, ora ngedan ora keduman” membawa dampak dalam kehidupan masyarakat. Manakala seseorang tidak mengikuti track tersebut maka ia akan merasa belum menemukan kehidupan. Mustafa Fahmi menyatakan bahwa “cemas adalah inti dari semua kesukaran jiwa yang diderita oleh manusia, yang mendorongnya kepada situasi yang menyulitkan, sehingga menjadikannya bertingkah laku dengan cara yang mengejutkandiri sendiri dan orang lain”.[5] Lebih dari itu Allah juga telah menggariskan bahwa manusia itu memiliki watak yang suka berkeluh kesah jika ditimpa kesusahan atau kecemasan.[6]

Berbagai kecemasan tersebut lebih dapat dirasakan peningkatannya secara cukup signifikan pada masa krisis multi-dimensional saat ini. Di saat kebutuhan hidup semakin sulit diraih secara ekonomi, di sisi lain peluang dan kesempatan kerja semakin susah diperoleh.

Kemudahan

            “Cepat dan Tepat” merupakan dua dari sekian banyak simbolisasi kata produk-produk teknologi. Secara tidak langsung, karakter ini telah merasuk dan mempengaruhi perilaku manusia-manusia modern. Karakter “mesin” (cepat dan tepat) ini telah ikut memberikan kontribusi terhadap pergeseran nilai, serta sisi-sisi humanis manusia dewasa ini. Temuan-temuan baru dalam bidang sarana komunikasi, misalnya, disamping membawa manfaat positif, di sisi lain telah mereduksi makna hubungan antar manusia. Daripada bersusah-payah dengan menempuh resiko besar “hanya” untuk Sungkem pada orangtua dan kerabatsaat hari raya, akan lebih praktis, cepat dan aman dengan bicara di ujung telepon, telegram, E-mail atau sejenisnya.

Dampak lainnya adalah semakin tipisnya kesabaran manusia modern. Banyak permasalahan yang semestinya akan lebih elegan jika diselesaikan dengan “akal”, namun seringkali harus berakhir dengan adu “okol”. Perilaku semacam ini akan lebih kentara bila bersinggungan denga urusan “perut”.

Kontrol

            Era digital telah membawa konsekuensi logis terciptanya kontrol yang baik terhadap berbagai sistem. Namun jika dicermati secara mendalam, hal ini telah menjadikan manusia terjebak ke dalam ketergantungan terhadap hal tersebut. Pendewaan teknologi dan lemampuan menguasainya, menjadikan manusia lebih memilih “hukum keteraturan”, Birokrasi, Kepraktisan, Pengulangan dan Sistematika dibandingkan dengan Spontanitas, Kreatifitas, Orisinalitas dan Kegembiraan. Ketergantungan mereka yang besar terhadap keteraturan dan sistematika menjadikan mereka selalu berusaha “mengontrol” seluruh sisi kehidupannya. Manusia menjadi khawatir dan takut terhadap situasi spontanitas, karena spontanitas kemungkinan sulit untuk dikontrol.[7]

            Dalam situasi seperti itu, kreatifitas menjadi sesuatu yang langka. De Porter memaknai orang kreatif adalah mereka yang mampu menggunakan pengetahuan yang dimilikinya dan membuat lompatan  yang memungkinkan mereka memandang segala sesuatu dengan cara yang berbeda.[8] Langkanya kreatifitas inilah yang menjadikan manusia modern menjauh dan merasa “risih” dari gagasan-gagasan brilliant serta pemikiran-pemikiran kreayif-inovatif. Dengan kata lain, pola semacam ini semakin menyempitkan jalan bagi tersemainya pola-pola berpikir divergent, spontan dan orisinil.

Kepatuhan pada Sistem

            Ilmu pengetahuan dan teknologi tidaklah berdiri sendiri, melainkan berada di dalam suatu bingkai sosial. Proses industrialisasi yang disandarkan pada keunggungulan ilmu pengetahuan dan teknologi, pada dasarnya merupakan akibat dari “kebijakan ekonomi” yang didorong oleh “motif ekonomi”. Berangkat dari hal inilah manusia modern dihadapkan pada berbagai persoalan pelik, sehingga penciptaan dan kepatuhan pada sistem menjadi suatu keniscayaan.

Sebenarnya tujuan awal ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sebagai sarana untuk mempermudah kehidupan manusia. Kehadirannya diharapkan dapat merangsang dan memacu nalar manusia. Akan tetapi, dalam sebuah tatanan industruialisasi yang bermotifkan ekonomi, manusia terjebak dalam suatu “sistem besar” yang sangat kompleks dan menjadikannya kurang berdaya. Manusia semakin kehilangan kepekaan manusiawinya karena hampir setiap saat dia hanya, harus atau biasa berhubungan dengan “tuan mesin”, atau dalam konteks ini teknologi telah berubah menjadi “musuh” atau bahkan “tuan” bagi manusia.[9]

Di era digital dewasa ini posisi manusia diwakili, atau bahkan digantikan, oleh “sederet angka”. Demi memenuhi asas kepraktisan dan keteraturan sistem, maka “sederet angka” inilah yang lebih penting dari sosok manusianya itu sendiri. Untuk mencairkan uang di bank atau ATM, maka siapa si A atau B tidak akan punya arti ketika tidak bisa menyebut atau menekan nomor PIN (Personal Identification Number), meskipun pegawai bank tersebut mengenalnya. Bagaimana seseorang diperlakukan secara kurang manusiawi ketika terjaring operasi yustisi/KTP, atau bagaimana kondisi psikis pekerja pabrik yang selama bertahun-tahun berhadapan dengan “tuan mesin”.

Dapat digambarkan bahwa “sistem besar” yang diciptakan ini telah mereduksi secara signifikan sisi-sisi humanis manusia-manusia modern. Hubungan antar manusia lebih bersifat mekanis. Bagaimanapun manusia tidak mampu mencegah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia diharapkan justru menunjukkan seberapa tinggi tingkat peradaban mereka. Namun demikian haruslah diwaspadai bahwa perkembangan yang diharapkan bisa mempertinggi harkat kemanusiaan tersebut, bukan mustahil akan berbalik pada “penghancuran” sisi-sisi kemanusiaannya.

Pergeseran nilai-nilai kehidupan yang disebabkan oleh terjadinya transformasi nilai-nilai modern ke dalam sistem nilai yang dianut oleh masyarakat, menyebabkan terdesaknya nilai-nilai lama (tradisional) seperti; adat istiadat, tata krama, kepedulian, kolektivitas atau bahkan nilai agama, menujun pada nilai-nilai yang memiliki kecenderungan materialistik dan berorientasi kekinian secara membabi buta.

PSIKOTERAPI: SEBUAH DISIPLIN

Sebagai suatu disiplin ilmu yang merupakan hasil spekulasi pikiran dan keterbatasan pengamatan manusia, Psikologi tentulah mempunyai sejumlah kelemahan. Kelemahan itu antara lain dapat dilihat, bagaimana kemampuan psikologi yang ssedemikian terbatas dalam menerangkan siapa sesungguhnya manusia dan bagaimana seharusnya manusia menata dirinya sehingga mencapai kesuksesan dalam menjalani kehidupannya. Seringkali kita melihat , bahwa psikologi dengan mudahnya mereduksi kenyataan-kenyataan tentang siapa sesungguhnya manusia. Hal ini bisa dilihat; bagaimana B.F. Skinner bisa menyimpulkan bahwa perilaku manusia sangat ditentukan oleh hukum Stimulus-Respons (S-R) dan bagaimana Sigmund Freud bisa sampai pada pandangan bahwa manusia (hidupnya) hanya didorong oleh kebutuhan libidonya.[10] Kaum Behavioris lebih asyik menyelidiki rata-rata orang pada umumnya, dengan menggunakan metode statistik. Mereka lebih suka mempelajari “apa yang ada” daripada “apa yang mungkin ataupun yang harus ada”. Mereka juga lebih banyak mendasarkan penelitian mereka pada studi tentang binatang-binatang.[11]

Sementara itu, dipihak lain kaum Behavioris lebih asyik menyelidiki rata-rata orang pada umumnya, dengan menggunakan metode statistik. Mereka lebih suka mempelajari “apa yang ada” daripada “apa yang mungkin ataupun yang harus ada”. Mereka juga lebih banyak mendasarkan penelitian mereka pada studi tentang binatang-binatang.[12]

                Banyak Psikolog yang memfokuskan kemampuan mereka untuk membahas tentang berbagai dimensi psikis manusia. Pada akhir tahun 60-an dan awal 70-an muncul gerakan psikologi sosial yang bergerak ke arah paradigma baru. Gerakan ini merupakan gejala ketidakpuasan terhadap konsepsi manusia menurut Behaviorisme. Gerakan baru ini tidak memandang manusia sebagai mahluk yang bereaksi pasif terhadap lingkungannya, melainkan sebagai mahluk yang “selalu berpikir” (Homo Sapiens). Paham Kognitivisme ini tumbuh dari pandangan filsafat Rasionalisme, yang mempertanyakan apakah betul bahwa penginderaan kita melalui pengalaman langsung, sanggup memberikan kebenaran. Kemampuan alat indera dinilai seringkali gagal menyajikan informasi yang akurat.[13]

Aliran Kognitif ini pada masa berikutnya disempurnakan oleh beberapa tokoh seperti Frankle  dan Carl Rogers, yang mulai mengarah kepada corak Psikologi Humanisme. Ciri-ciri Kognitif masih nampak pada aliran ini adalah (a) mementingkan manusia sebagai pribadi; (b) mementingkan kebulatan pribadi; (c) mementingkan peranan kognitif dan afektif; d) mementingkan persepsi subjektif yang dimiliki tiap individu; (e) mementingkan kemampuan menentukan bentuk tingkah laku sendiri; dan (f) Mengutamakan “insight”.[14]

Dalam tubuh alirani ini, terdapat dua aliran yang sangat intens membahas bagaimana individu memaksimalkan fungsi otak (kognisi), yakni Gestalt dan Medan. Suatu konsep yang penting dalam teori Gestalt ialah tentang “insight”. Insight ialah pengamatan/pemahaman mendadak terhadap hubungan-hubungan antar bagian-bagian di dalam situasi permasalahan. Insight ini sering dihubungkan dengan pernyataan spontan “aha” atau “oh, I see”.[15] Manusia tidaklah memberikan respons secara otomatis kepada stimulus yang dihadapkan kepadanya. Manusia adalah mahluk aktif yang mampu menafsirkan lingkungan, bahkan dapat mendistorsinya. Sebelum memberikan respons, manusia dapat menangkap lebih dulu “pola” stimuli secara keseluruhan dalam satuan-satuan yang bermakna, yang dinamakan “Gestalt”. Jadi manusialah yang menentukan makna stimuli itu, bukan stimuli itu sendiri. Sedangkan Kurt Lewin dengan teori Medannya, menyatakan bahwa tingkah laku individu merupakan fungsi dari pribadi dan lingkungnnya.

Kelemahan-kelemahan dalam melihat fenomena-fenomena tentang manusia ini menimbulkan ketidakpuasan pada sebagian tokoh-tokoh psikologi. Muncullah kaum Freudian yang beranggapan bahwa semua bentuk tingkah laku  luhur adalah hasil/proses belajar, dan bukannya sesuatu yang bersifat kodrati. Kelompok ini lebih memfokuskan diri pada penyelidikan tentang orang-orang yang mengalami gangguan neuritis dan psikotis[16] yang selanjutnya lebih dikenal sebagai Psikoanalisa.

Terhadap dua aliran ini Abraham W. Maslow merasa ada sesuatu yang “hilang dalam diri psikologi.” Menurutnya, baik Behaviorisme maupun Psikoanalisis tidak memandang manusia sebagaimana mestinya, bahkan kedua aliran tersebut cenderung, kalau tidak bisa dikatakan sangat, menafikan potensi atau sisi-sisi keunggulan komparatif manusia. Pada akhirnya Maslow memelopori berdirinya Psikologi Humanistik. Maslow ingin membawa psikologi berbicara tentang siapa sesungguhnya manusia dan bagaimana seharusnya manusia menata dirinya. Aliran ini mengajukan sebuah konsepsi tingkah laku manusia yang memiliki kesadaran dan bertanggung jawab. Aliran ini menawarkan orientasi baru terhadap psikologi, dan membawanya pada hubungan yang lebih dekat dengan persepsi keseharian manusia. Sebagai “kekuatan ketiga” dalam kancah psikologi kontemporer, aliran Humanistik lebih memberikan perhatian dan kepedulian terhadap topik-topik yang dianggap menempati posisi pinggiran dalam teori-teori besar yang sudah ada, seperti; kasih sayang, kreatifitas, aktualisasi diri, nilai-nilai yang lebih tinggi, “makna menjadi”, spontanitas, sisi afektif, otonomi, tanggung jawab, pengalaman transendental, keberanian serta konsep-konsep yang terkait.

Humanistic Psychology is primarily an orientation toward the whole of psychology rather than a distinct area or school. It stands or respect for worth persons, respect for differences and interest in exploration of new aspect of human behavior. As a third force in contemporary psychology it is concerned with topics having little place in existing theories and systems: e.g. love, creativity, self actualization, higher values, being, meaning becoming, spontaneity, play, human affection, autonomy, responsibility, fair play, transcendental experience, courage, and related concept.[17]

Dunia psikologi Barat dengan pengaruh gelombang positivisme-nya, yang mendasarkan sikap ilmiah mereka kepada fakta-fakta empiris, pada mulanya nampak masih ragu bahkan menolak psikologi yang berkembang di dunia Timur. Praktek-praktek metafisika yang telah lama berkembang di dunia Timur seperti Zen, Yoga, Budhism dan sufisme Islam masih disikapi secara apriori, karena terbentur dengan prinsip-prinsip empiris. Namun belakangan, praktek-praktek metafisika yang dikembangkan oleh dunia Timur, yang mencoba mencapai jalan kesempurnaan sebagai manusia, ini cukup dilirik oleh sebagian kalangan Barat. Hal ini membawa arti bahwa, ada benang merah antara dunia psikologi dan dunia metafisika, yang dalam terminologi Islam dikenal sebagai Sufisme.     

Merebaknya gerakan, atau sebutlah aliran, Psikologi Islam di dunia Barat (dalam hal ini di Amerika), merupakan satu bagian dari sebuah gerakan besar dan menyeluruh yang berusaha menentang dan menunjukkan alternatif lain konsepsi tentang manusia, atau lebih tepatnya berupaya merekonstruksi asumsi-asumsi tentang sifat-sifat dasar manusia (human nature). Dari gerakan inilah lahir berbagai karya yang berupaya memunculkan kembali kontribusi pemikir-pemikir Islam dalam bidang psikologi, dan melontarkan kritik atas asumsi-asumsi yang  dijadikan dasar untuk membangun teori-teori psikologi Barat, terutama teori-teori Psikoanalisa, Behaviorisme dan Humanistic (Psikologi kemanusiaan).[18]

Aliran psikologi lain yang sangat memiliki kedekatan dengan dunia tasawuf adalah Psikologi Transpersonal. Aliran Transpersonal yang juga tengah berkembang dewasa ini mencoba melakukan ekstensifikasi bidang kajian psikologi, dari wilayah jasad dan jiwa menuju kepada wilayah jasad-jiwa dan rohani. Dengan demikian, aliran ini mencoba membangun trilogi wilayah kajian yakni; psiko-fisik-spiritual.

Psikologi Transpersonal ini bisa dikatakan luapan ketidak puasan atau penyempurnaan ketiga aliran psikologi sebelumnya yakni; Psikoanalisa, Behaviorisme dan Humanistik. Gambaran tersebut diungkapkan dalam sebuah jurnal yang diterbitkan pada tahun 1969, The Journal of Transpersonal Psychology yang diterbitkan oleh Association of Transpersonal Psychology yang memberikan penjelasan secara rinci tentang arah aliran ini:

Transpersonal Psychology is the title given to an emerging force in the psychology field by a group psychologist and professional men and women from other fields who are interested in those ultimate human capacities and potentialities that have no systematic place in positivistic or behaviouristic theory (first force), classical psychoanalystic theory (second force) or humanistic theory (third force). The emerging Transpersonal Psychology (fourth force) is concerned specifically with the empiric scientific study of a responsible implementation of the finding relevant to becoming, individual and unitizes consciousness, ecstasy, mystical experiences, self actualization, transcendence of the self, spirit, cosmic self, etc.[19]

Artinya : Psikologi Transpersonal adalah nama yang diberikan kepada kekuatan baru yang muncul dalam lapangan psikologi yang diprakarsai oleh sekelompok ahli psikologi dan professional dari berbagai bidang, yang tertarik untuk mengupayakan pencapain optimal kapasitas dan potensi manusia, dimana hal itu tidak mendapat tempat dalam teori positivistik atau behavioristik (kekuatan pertama) atau teori psikoanalisa klasik (kekuatan kedua) maupun dalam psikologi humanistic (kekuatan ketiga). Kemunculan Psikologi Transpersonal (kekuatan keempat) ini dikarenakan kepeduliannya secara spesifik terhadap studi sains empirik serta implementasinya terhadap beberapa hal yang cukup relevan untuk diwujudkan, menyangkut kesadaran individu dan kelompok, kenikmatan, pengalaman-pengalaman mistis, aktualisasi diri, transendensi diri, roh/jiwa, kosmik dan lainnya.

            Meskipun aliran psikologi ini relatif baru dari segi usia, namun sebenarnya praktek-praktek keseharian manusia, yang diyakini merupakan indikator-indikator dari dunia psikologi transpersonal ini telah dikenal secara luas seperti; Zen, Budhism, Yoga Mistik Kristen, Sufism Islam dan sebagainya. Tetapi karena kebanyakan ilmuan Barat, relatif sedikit yang mempunyai apresiasi terhadap psikologi Timur, maka hal tersebut kurang mendapat perhatian secara ilmiah.[20] Hal ini dikarenakan, terhadap transendensi, silmu pengetahuan Barat masih ditandai dengan sikap-sikap intelektual yang tidak begitu saja bisa mengakui dan menerima fenomena-fenomena religiusitas tersebut. Dikarenakan pengaruh kuat dari aliran-aliran besar yang ada sebelumnya seperti Positivisme, maka pendekatan-pendekatan yang dilakukan biasanya diawali dengan melakukan riset empiris terhadap fakta-fakta dan praktek-praktek fenomena tersebut, dengan harapan bisa memberikan deskripsi secara ilmiah serta menemukan prinsip-prinsipnya. Sikap ini, setidaknya, bisa dimaklumi karena mereka hendak bersikap objektif dan nertral terhadap fenomena-fenomena metafisika dengan tanpa melakukan pemihakan terhadap agama atau keyakinan tertentu.

Setelah melalui kajian yang cukup mendalam terhadap 40 ragam definisi psikologi transpersonal selama kurun waktu 23 tahun, maka Shapiro dan Lajoie memberikan gambaran mengenai apa yang ditelaah oleh psikologi transpersonal. Riset dari kedua tokoh tersebut mengarahkan kepada beberapa tema utama yang menurut mereka harus dijadikan pokok penelitian labih lanjut  oleh aliran Transpersonal. Tema-tema sentral tersebut meliputi: (1) keadaan kesadaran (state of cosciousness), (2) potensi-potensi tertinggi, (3) melampaui ego atau diri pribadi, (4) transendensi dan (5) spiritual.[21]

            Munculnya ragam aliran besar dan disusul oleh aliran Psikologi Transpersonal, dengan mencoba melakukan telaah secara ilmiah terhadap fenomena-fenomena transendensi, memberikan argumentasi kuat bagi lahirnya struktur kajian Tasawuf dan praktek Psikoterapi dalam perspektif ilmu pengetahuan. Kajian tersebut terkait dengan bagaimana perilaku sufi dengan pengalaman mistisnya (transenden) dapat diterangkan secara ilmiah, serta bagaimana pengalaman batiniah tersebut mampu diterapkan dalam praktek psikoterapi, baik sebagai langkah preventif maupun kuratif bagi penyakit kejiwaan manusia modern.

Quraish Shihab dalam bukunya Membumikan Al-Qur’an menyebutkan bahwa Allah telah menganugerahkan kepada manusia empat daya, yaitu :

  1. Daya Tubuh, yang mengantar manusia berkekuatan fisik. Berfungsinya organ tubuh dan panca indera adalah berasal dari organ ini.
  2. Daya Hidup, yang menjadikannya memiliki kemampuan mengembangkan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan serta mempertahankan hidupnya dalam menghadapui tantangan.
  3. Daya Akal, yang memungkinkannya memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi.
  4. Daya Kalbu, yang memungkinkannya bermoral, merasakan keindahan, kelezatan iman dan kehadiran Allah . Dari daya inilah lahirintuisi dan indera keenam.[22]

Memang, psikologi yang membahas masalah-masalah yang bersifat transenden tidak sepenuhnya mampu menjelaskan secara ilmiah fenomena-fenomena batiniah ataupun mistis. Hanya para praktisi mistis sajalah yang dapat memahami fenomena-fenomena mistis ini secara paripurna. Di sisi lain nampaknya juga demikian, bahwa dunia sufi adalah dunia spiritual yang tidak dengan gampang bisa diperdebatkan secara diskursif. Hal ini dikarenakan dunia sufi memang tidak memiliki acuan-acuan yang bersifat konkrit-empirik. Karena sifatnya yang demikian, banyak fenomena-fenomena sufistik seperti ilmu Hudhuri (Knowledge by Present) atau puncak pengalaman sufi dalam maqam-maqam sifistik seperti; ittihad ataupun hulul, tidak dapat sepenuhnya dijelaskan secara ilmiah dengan pendekatan psikologi, dalam hal ini Transpersonal.

Psikologi Sufi yang arahnya hendak membangun kesadaran tinggi manusia dengan menerapkan teknik-teknik spiritual –memang sejauh ini- belum terumuskan dengan jelas. Praktek-praktek Psikoterapi dengan sentuhan ibadah seperti dzikir, tafakkur, tawakkal, maqamat-maqamat, ittihat, hulul, wahdatul wujud dan sebagainya, merupakan tema-tema yang sangat kental dengan transendensi diri. Dalam pandangan Sufism, sumber yang menjadi potensi bagi seseorang untuk mengalami transendensi adalah “roh” yang ditiupkan Allah kepada manusia. Ia merupakan sarana untuk menjalin komunikasi antara mahluk dengan al-Khaliq. Dan teknik-teknik, sebagimana tersebut di atas, ini merupakan teknik serta metode yang diajarkan al-Qur’an serta Sunnah Rasul. Dari sorak yang demikian ini, maka sufisme merupakan psikologi dalam persektif Islam.

STRATEGI HOLISTIK DAN KONTRIBUSI PSIKOTERAPI

Dalam rumusan UNESCO disebutkan bahwa pendidikan mempunyai dua dimensi. Pertama, harus mempersiapkan orang menghadapi segala perubahan, menunjukkan bagaimana cara menerima perubahan itu dan memanfaatkannya, menciptakan kerangka pikiran yang non-konservatif, non-konformis dan dinamis. Kedua, pendidikan harus menjadi penawar terhadap pemutarbalikan kondisi yang banyak terdapat dalam diri manusia dan masyarakat. Sebab pendidikan demokratis harus mampu menyembuhkan frustasi, depersonalisasi dan keterasingan dalam dunia modern, dan dengan pendidikan seumur hidup akan mengurangi rasa tidak aman serta menaikkan mobilitas profesional.[23]

Menurut Driyarkara, pendidiikan merupakan proses “pemanusiaan” manusia muda. Pendidikan harus dapat membantu agar seseorang secara “tahu” dan “mau” bertindak sebagai manusia dan bukan hanya secara instinktif semata (proses hominisasi). Lebih lanjut, pendidikan hendaknya dipahami juga sebagai proses humanisasi, yaitu agar seluruh sikap dan tindakan serta kegiatan seseorang benar-benar bersifat manusiawi.[24]

Sementara itu, Muchtar Buchori menyoroti tentang ketidakjelasan strategi yang diterapkan oleh dunia pendidikan dalam mengejar ketertinggalan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurutnya, dewasa ini terdapat dua jenis tantangan yang dihadapi oleh kita sebagai bangsa, yaitu :

1)      Mengejar ketinggalan kita terhadap bangsa-bangsa lain yang telah “maju” agar dapat berinteraksi dengan mereka secara seimbang, dan

2)      Mempersiapkan diri untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian yang dituntut oleh perubahan-perubahan yang akan datang, yang tanda-tandanya sudah terlihat sejak sekarang.[25]

Lebih lanjut dikatakan, bahwa mengejar ketertinggalan merupakan suatu tuntutan dan keharusan, namun yang perlu dipikirkan secara cermat adalah “perumusan strategi” untuk mengejarnya. Penyusunan gambaran secara jelas tentang apa yang bersama sedang dikejar, merupakan hal yang sangat urgen. Ketertinggalan yang terdapat dalam diri bangsa ini begitu banyak, sehingga perlu dipilih mana-mana ketertinggalan yang akan dan perlu untuk dikejar terlebih dahulu, bukan serentak.[26] Strategi ini tentunya juga menjadi pilihan yang cukup akurat dalam konteks individu, di dalam menyikapi ketertinggalan mereka dalam kompetisi kehidupan.

Strategi Link and Match, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, perlu dikaji kembali. Konsep ini lebih memunculkan pemuliaan terhadap bidang-bidang Hi-Tech (yang berbasis pada ilmu-ilmu exact) ini, terlihat begitu mengesampingkan aspek sosio-psikologis, yang diharapkan mampu menjadi “penyeimbang” bagi pembangunan manusia seutuhnya. Konsep ini telah banyak memunculkan manusia-manusia modern dengan pribadi yang terbelah (split personality).

Pendidikan dalam era Hi-Tech dewasa ini selalu dituntun untuk memenuhi kebutuhan akan “tenaga siap pakai”. Istilah tersebut memberi arti secara tersirat bahwa manusia tidak lebih dari sekedar alat yang diabdikan untuk memenuhi/mencapai tujuan dari suatu sistem besar yang melingkupinya. Ia bisa saja kehilangan dirinya dan siap hanyut dalam kepentingan di luar dirinya.

Manusia menjadi terjebak mengejar ketrampilan  yang berhubungan dengan produk teknologi, namun di sisi lain ia menjadi gagap ketika berhadapan dengan sisi-sisi manusiawi. Pendidikan “siap pakai” lebih mengantar individu pada pengembangan kognitif dan skill, akan tetapi aspek-aspek humanioral tercecer. Manusia mengalami “keterbelahan” antara rasio dan afeksi, yang secara klinis telah mengarah kepada schizoprenia.[27]

            Seharusnya pendidikan lebih diarahkan untuk menyiapkan manusia yang bukan hanya siap pakai, lebih dari itu juga siap melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi diri dan masyarakatnya, dengan kata lain manusia yang mampu melakukan sesuatu dalam posisinya sebagai “manusia”. Sosok manusia yang tahu persis kapasitas dan potensinya serta bisa mengaktualisasikan dalam karya-karya yang bermanfaat, adalah mereka yang bukan sekedar “melakukan karena mungkin untuk melakukan”. Untuk melakukan sesuatu karena mungkin atau karena mampu untuk melakukan, merupakan satu ciri “penyakit” manusia modern. Apapun yang “mungkin” (secara teknis bisa dilakukan) kenapa tidak? Terlepas dari apakah hal itu memang perlu/harus dilakukan dan dibutuhkan serta bermanfaat bagi kehidupan manusia atau tidak.

            Dalam pandangan Ivan Illich, pertumbuhan pribadi bukanlah entitas terukur. Ia adalah pertumbuhan dalam pembangkangan terhadap pendisiplinan, yang tidak bisa diukur dengan penggaris, tidak pula dengan kurikulum manapun, tidak bisa dibanduing-bandingkan dengan pencapaian pribadi lain. Belajar yang semacam itu, orang bisa mengikuti jejak orang lain hanya dalam penjelajahan imaginatif, itupun bukan meniru secara persis melainkan sekedar napak tilas. Dalam pandangan Illich, belajar yang ia hargai adalah karya cipta yang tak mungkin diukur. Orang yang menyerah ketika diukur oleh orang lain, maka akhirnya ia akan memakai alat serupa untuk mengukur pertumbuhannya sendiri. Ia tidak lagi harus “ditempatkan”, karena ia sudah masuk sendiri ke tempatnya -tempat yang diajarkan kepadanya untuk dijadikan tujuan- dan dalam proses itu ia menempatkan semua orang dan segala hal di tempat mereka masing-masing.[28]

Jika “desain” semacam ini dibelokkan akan berakibat munculnya benturan-benturan kejiwaan baik individual maupun kolektif. Individu yang terkungkung atau terkekang oleh kondisi yang sama sekali tidak diinginkan akan mengalami kegelisahan dan kecemasan, yang akan bermuara pada munculnya gangguan atau penyakit kejiwaan. Jika hal itu terakumulasi pada suatu komunitas, maka akan menciptakan komunitas yang tidak sehat pula. 

Kecemasan alamiah, dalam beberapa keadaan, sering muncul dengan didahului dan disertai oleh situasi kritis yang dihadapi manusia. Ini merupakan kesempatan psisiologis yang memungkinkan manusia menghadapi berbagai krisis atau melindungi diri darinya dengan persiapan psikologis dan struktur fisiologisnya. Kecemasan alamiah bukan hanya dialami oleh manusia, tetapi juga sering dialami oleh binatang bahkan tumbuhan serta segala hal yang memiliki naluri (insting) penjagaan diri.[29]

Psikoterapi mencoba menyelami penyebab gangguan kejiwaan tersebut, sekaligus mengembangkan teknik-teknik terapeutik-nya. Konsep gangguan kejiwaan dan manusia yang normal memang terkadang masih samar dan sukar ditentukan batas-batasnya. Sikap hidup yang dikatakan normal oleh suatu kelompok, bisa jadi dianggap abnormal oleh kelompok lain. Yang dianggap abnormal pada masa dulu, ternyata dianggap normal pada masa sekarang.[30]


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adnan Syarif, Dr., Psikologi Qur’ani, Terj. M. al-Mighwar, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002).

Agus Maladi Irianto, Mudjahirin Thohir, Kemajemukan dan Resolusi Konflik, Membangun Rasa Damai di Atas Bara, (Semarang: Limpad, 2000).

Arifin, M.Ed., Drs. H.M., Psikologi dan Beberapa Aspek Kehidupan Ruhaniyah Manusia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976).

A, Sutich, American Association for Humanistic Psychology, Article of Association, (Paulo Alto, CA. 1963).  

 ———–, in the first issue of  The Journal of Transpersonal Psychology, Spring 1969, dalam T. Tart (ed) Transpersonal Psychologies, (New York: Harper and Row Publisher, 1975).

Azyumardi Azra, Prof. Dr., MA., Esei-Esei Intelektual Muslim Pendidikan Islam, Jakarta: Logoss, 1999).

De Porter, Bobby, Mike Hernacki, Quantum Learning; Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, (Bandung: Kaifa, 1999).

Djamaluddin Ancok, Fuat Nashori Suroso, Psikologi Islam: Solusi atas Problem-problem Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994).

Echols, John M., Hassan Shadily, Kamus Inggris – Indonesia, (Jakarta: Gramedia, cet XVII, 1989).

Frank G. Goble, Madzhab Ketiga Psikologi Humanistik Abraham Maslow, (The Third Force, The Psychology of Abraham Maslow), terj. A. Supratiknya, (Yogyakarta: Kanisius, 1994).

Frieda NRH, Dra., M.Si., Keterasingan Manusia Modern, Makalah Seminar “Menggagas Prodi Tasawuf dan Psikoterapi”, Semarang,.

Hasan Langgulung, Kreatifitas dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1990).

Juhana Wijaya, Psikologi Bimbingan, (Bandung: Eresco, 1988).

M. Quraish Shihab, Membumukan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1995).

Muchtar Buchori, Dr., Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994).

Mustafa Fahmi, Prof. Dr., Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, alih bahasa Dr. Zakiyah Daradjat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976).  

N. Driyarkara, Tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Kanisius, 1980).

Omi Intan Naomi, Editor dan alih bahasa, Menggugat Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 1998).

Robert Ornstein, The Nature of Human Consciousness: A Book of Reading, (New York: Harper and Row Publisher, 1973).

Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, Psikologi Belajar (Semarang: IKIP Semarang Press, 1989).

UNESCO, Belajar untuk Hidup, Pendidikan Hari Ini dan Hari Esok, (Jakarta: Bhatara, 1981).

Wasti Sumanto, Drs., Psikologi Pendidikan (Jakarta:Bina Aksara, 1987).

Z.F. Joesoef Noesjirman (ed), Konsep Manusia menurut Psikologi Transpersonal, dalam Metodologi Psikologi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000). 

 


[1] Agus Maladi Irianto, Mudjahirin Thohir, Kemajemukan dan Resolusi Konflik, Membangun Rasa Damai di Atas Bara, (Semarang: Limpad, 2000), hlm. 14.

[2] Azyumardi Azra, Prof. Dr., MA., Esei-Esei Intelektual Muslim Pendidikan Islam, Jakarta: Logoss, 1999), hlm. 164.

[3] Echols, John M., Hassan Shadily, Kamus Inggris – Indonesia, (Jakarta: Gramedia, cet XVII, 1989), hlm. 138.

[4] Arifin, M.Ed., Drs. H.M., Psikologi dan Beberapa Aspek Kehidupan Ruhaniyah Manusia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm. 127.

[5] Mustafa Fahmi, Prof. Dr., Kesehatan Jiwa dalam Keluarga, Sekolah dan Masyarakat, alih bahasa Dr. Zakiyah Daradjat, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), hlm. 40.  

[6] Lihat al-Qur’an Surat 70: 19-22)

[7] Frieda NRH, Dra., M.Si., Keterasingan Manusia Modern, Makalah Seminar “Menggagas Prodi Tasawuf dan Psikoterapi”, Semarang, 24 Pebruarui 2001.

 

[8] De Porter, Bobby, Mike Hernacki, Quantum Learning; Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, (Bandung: Kaifa, 1999) hlm. 295.

 

[9] Frieda, Loc. Cit.

 

[10] Dr, Djamaluddin Ancok, Fuat Nashori Suroso, Psikologi Islam: Solusi atas Problem-problem Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1994), hlm. 63.

 

[11] Ibid., hlm. 36.

 

[12] Ibid., hlm. 36.

[13] Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang, Psikologi Belajar (Semarang: IKIP Semarang Press, 1989), h.100.

[14] Ibid., h. 104-5.

[15] Wasti Sumanto, Drs., Psikologi Pendidikan (Jakarta:Bina Aksara, 1987), h. 122.

[16] Frank G. Goble, Madzhab Ketiga Psikologi Humanistik Abraham Maslow, (The Third Force, The Psychology of Abraham Maslow), terj. A. Supratiknya, (Yogyakarta: Kanisius, 1994), hlm. 34.

 

[17] A, Sutich, American Association for Humanistic Psychology, Article of Association, (Paulo Alto, CA. 1963).  

 

[18] Hasan Langgulung, Kreatifitas dan Pendidikan Islam, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1990). Hlm. 283-4.

 

[19] Anthony Sutich, in the first issue of  The Journal of Transpersonal Psychology, Spring 1969, dalam T. Tart (ed) Transpersonal Psychologies, (New York: Harper and Row Publisher, 1975), hlm. 11.

 

[20] Robert Ornstein, The Nature of Human Consciousness: A Book of Reading, (New York: Harper and Row Publisher, 1973), hlm. 5.

 

[21] Z.F. Joesoef Noesjirman (ed), Konsep Manusia menurut Psikologi Transpersonal, dalam Metodologi Psikologi Islam, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), hlm. 85. 

 

[22] Dr. M. Quraish Shihab, Membumukan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1995), hlm. 281.

 

[23] UNESCO, Belajar untuk Hidup, Pendidikan Hari Ini dan Hari Esok, (Jakarta: Bhatara, 1981) hlm. 138.

 

[24] N. Driyarkara, Tentang Pendidikan, (Yogyakarta: Kanisius, 1980) hlm. 69.

 

[25] Muchtar Buchori, Dr., Spektrum Problematika Pendidikan di Indonesia, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994), hlm. 277.

[26] Ibiid., hlm. 277-278.

 

[27] Frieda, Loc. Cit.

 

[28] Omi Intan Naomi, Editor dan alih bahasa, Menggugat Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 1998), hlm. 538-539.

 

[29] Adnan Syarif, Dr., Psikologi Qur’ani, Terj. M. al-Mighwar, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2002) hlm. 86.

 

[30] Juhana Wijaya, Psikologi Bimbingan, (Bandung: Eresco, 1988), hlm. 33.

Tentang abdulwahidilyas

abdul wahid, staf pengajar di Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, beralamat di Jl. Candi Prambanan VI/1444 Kalipancur Semarang
Pos ini dipublikasikan di Perkuliahan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s