Pola Belajar

KEMANDIRIAN BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI

Ada gejala yang mengkhawatirkan tentang menurunnya kualitas lulusan perguruan tinggi. Kurang atau minimnya semangat membaca, kurangnya pemahaman tentang strategi belajar, serta menurunnya kemandirian belajar para mahasiswa.

Sesungguhnya pendidikan tinggi bukanlah semata-mata suatu persiapan untuk hidup, melainkan merupakan suatu kehidupan tersendiri, yaitu suatu kehidupan untuk mengejar kebenaran, menuntut pengetahuan  ilmiah, mengalihkan kebudayaan, memperluas wawasan, mengembangkan ketrampilan, membina keyakinan, membentuk kepribadian, menguji keuletan, melakukan tata hubungan, dan persahabatan, sedangkan mempersiapkan diri untuk kehidupan kerja di masa depan hanyalah salah satu segi dari kehidupan itu. Oleh karena itu, setiap mahasiswa hendaknya menjalani kehidupan pendidikan tinggi dengan sebaik-baiknya. Kehidupan itu perlu diperjuangkan dengan gairah belajar yang membara dan ditempuh secara tekun oleh setiap mahasiswa sehingga kelak dapat benar-benar menjadi seorang sarjana yang bermutu tinggi dan berbudi luhur 

  1. PENDAHULUAN

Mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi, bagi sebagian besar orang dipandang sebagai gerbang menuju sukses dalam kehidupan di masa yang akan datang. Kehidupan kampus sering dianggap sebagai persiapan untuk menghadapi kehidupan di masa depan. Namun sesungguhnya, ia merupakan kehidupan itu sendiri; “College isn’t training for life, it is life”[1] 

Di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 16 ayat 1 dinyatakan bahwa:

Pendidikan Tinggi merupakan kelanjutan Pendidikan Menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian. (UUSPN No. 2 th 1989)

Untuk selanjutnya rumusan tersebut dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 tahun 1990, sebagai aturan pelaksanaan, tentang Pendidikan Tinggi. Dalam pasal 2 ayat 1 Peraturan Pemerintah ini dirumuskan bahwa tujuan Pendidikan Tinggi ialah:

  1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau professional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian.
  2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

 

Melihat rumusan tersebut, maka keberadaan mahasiswa memiliki nilai strategis, sebagai agen perubahan sosial.  Mereka harus siap untuk dipacu atau memacu diri  dalam rangka mengukir prestasi. Bertolak dari sinilah maka membicarakan tentang bagaimana upaya-upaya yang perlu ditempuh guna membangun prestasi di bangku Perguruan Tinggi adalah sangat urgen.

Berbicara dalam konteks Pendidikan Islam, Azyumardi Azra melontarkan suatu keprihatinan terhadap prestasi Pendidikan Islam yang masih menempati posisi periferal. Azra menyatakan bahwa; dikarenakan pengelolaan yang secara umum tidak atau kurang professional, Pendidikan Islam seringkali  kalah bersaing dalam berbagai segi.dengan sub-sistem Pendidikan Nasional yang diselenggarakan oleh kelompok-kelompok masyarakat lain. Bukan rahasia lagi, bahwa citra dan gengsi (baca: prestasi) lembaga Pendidikan Islam sering dipandang sebagai subordinat dari pendidikan yang diselenggarakan pihak lain.[2]

Dari statement tersebut dapat ditarik satu kata kunci yaitu “prestasi”  Dari sisi lembaga kelemahan tersebut bisa jadi disebabkan oleh mismanajemen, sedang dari sisi “prestasi” outputnya (yang merupakan barometer suatu lembaga pendidikan) dimungkinkan, salah satunya, karena pengelolaan belajar yang kurang baik. Pengelolaan belajar secara individual adalah berangkat dari penciptaan pola belajar yang baik, yang pada gilirannya akan mampu memacu peningkatan prestasi.

Menurut Morgan “Learning may be defined as any relatively permanent change in behavior which occurs as a result of experience or practice [3] (Belajar bisa diartikan sebagai perubahan yang relatif permanen/tetap pada tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari pengalaman atau latihan).. Adapun Pola Belajar yang dimaksudkan dalam tulisan ini adalah, Bagaimana atau apa sajakah yang dilakukan oleh mahasiswa agar belajarnya di bangku kuliah  dapat mencapai prestasi yang baik. Terdapat beberapa aspek utama yang dapat menunjang keberhasilan studi di perguruan tinggi, yaitu;

  1. Aktivitas dalam perkuliahan,
  2. 2.      Belajar Mandiri,
  3. 3.      Belajar Kelompok,
  4. 4.      Pemanfaatan Fasilitas Belajar (Perpustakaan, Laboratorium, dan sebagainya).

Namun demikian pembatasan ini bukanlah merupakan faktor kemutlakan tentang suatu pola baku. Pola belajar di sini lebih pada strategi belajar yang lazimnya ditempuh oleh seorang mahasiswa di perguruan tinggi. Sehingga perbandingan yang dilakukan terhadap empat sub variabel ini, lebih pada pemfokusan unsur-unsur pokok pola atau strategi belajar yang lazimnya ditempuh oleh para mahasiswa. Dengan harapan, sorotan terhadap unsur-unsur pokok ini dapat menjadi masukan bagi pengembangan strategi belajar yang baik atau ideal di bangku kuliah.

  1. BELAJAR DI PERGURUAN TINGGI

Sesungguhnya pendidikan tinggi bukanlah semata-mata suatu persiapan untuk hidup, melainkan merupakan suatu kehidupan tersendiri, yaitu suatu kehidupan untuk mengejar kebenaran, menuntut pengetahuan  ilmiah, mengalihkan kebudayaan, memperluas wawasan, mengembangkan ketrampilan, membina keyakinan, membentuk kepribadian, menguji keuletan, melakukan tata hubungan, dan persahabatan, sedangkan mempersiapkan diri untuk kehidupan kerja di masa depan hanyalah salah satu segi dari kehidupan itu. Oleh karena itu, setiap mahasiswa hendaknya menjalani kehidupan pendidikan tinggi dengan sebaik-baiknya. Kehidupan itu perlu diperjuangkan dengan gairah belajar yang membara dan ditempuh secara tekun oleh setiap mahasiswa sehingga kelak dapat benar-benar menjadi seorang sarjana yang bermutu tinggi dan berbudi luhur.[4]

Perguruan Tinggi merupakan lembaga pendidikan yang memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan lembaga pendidikan di bawahnya. Di bangku kuliah, ilmu pengetahuan memiliki karakteristik; semakin luas dan mendalam.

Berdasarkan asumsi tersebut, muncul satu pertanyaan mendasar yang perlu dicari jawaban dan pemecahannya; Bagaimanakah pola atau cara belajar di Perguruan Tinggi, agar bisa memperoleh hasil yang baik dan optimal? Hasil yang baik dan optimal di sini bukanlah semata-mata diperolehnya nilai-nilai ujian yang bagus (tinggi), akan tetapi (lebih dari itu) harus tercipta suatu pendalaman penguasaan keilmuan. Dengan demikian, pola belajar yang baik bukan semata-mata serangkaian  langkah (baca: cara mudah) untuk mendapatkan nilai bagus, sebagaimana yang banyak ditawarkan oleh kursus-kursus atau bimbingan-bimbingan belajar, namun merupakan cara belajar agar bisa memperdalam serta memperluas ilmu, meningkatkan mutu keilmuan sekaligus memperoleh nilai baik.[5]

Kiranya bisa dipastikan bahwa “pola belajar”atau “cara belajar” antara masing-masing individu tidaklah sama. Berbagai langkah ditempuh dan terus dicoba-coba oleh setiap individu untuk menemukan suatu pola atau cara yang paling pas dan menyenangkan baginya dalam belajar; ada yang harus menempuh pola sistematis dengan mengkombinasikan berbagai sumber belajar, ada yang mampu belajar secara mandiri, bahkan dalam hal-hal kecil, ada yang harus berada dalam suasana yang hening, namun ada yang justru harus dengan iringan musik.

Kata “pola” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia  diartikan sebagai “sistem, cara kerja” atau “bentuk pengorganisasian program kegiatan ataupun program belajar”[6]

Sedangkan “belajar” diartikan sebagai aktivitas “memperoleh kepandaian atau ilmu” atau “perubahan tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman”[7]

Jadi pola belajar dapat diartikan sebagai suatu cara atau bentuk pengorganisasian berbagai aktivitas dalam upaya memperoleh kepandaian atau ilmu yang diindikasikan dengan terjadinya perubahan tingkah laku atau tanggapan terhadap suatu permasalahan melalui pengalaman ataupun latihan.

Dalam hal gaya belajar, para peneliti menemukan setidaknya terdapat tiga gaya utama belajar :

  1. Pelajar haptik, dari kata Yunani yang berarti “bergerak bersama”: orang yang belajar paling baik ketika mereka terlibat, bergerak, mengalami, dan mencoba-coba; sering disebut juga pelajar kinestik.
  2. Pelajar visual, yang belajar paling baik ketika mereka melihat gambar-gambar yang mereka pelajari, sebagian kecil mereka berorientasi pada “teks tercetak” dan dapat belajar melalui membaca.
  3. Pelajar auditorial, yang belajar paling baik melalui suara, musik dan berbicara.[8]

Ketiga pola ini, yang berangkat dari pendayagunaan fungsi indera,  merupakan pola yang digunakan oleh peserta didik/pelajar untuk mengembangkan potensi pikir dan bertindak. Dari sinilah seorang pelajar akan mengukur serta mengorganisir berbagai aktivitas belajarnya untuk mencapai keberhasilan.

  1. MENEMUKAN POLA BELAJAR YANG MANDIRI

Pola atau cara belajar yang salah akan menyebabkan atau mengakibatkan sulitnya masuk/diterimanya bahan atau materi perkuliahan di dalam kepala mahasiswa. Kesulitan semacam ini akan menimbulkan rasa bosan, rasa muak atau rasa tertekan, dan kalau perasaan –perasaan ini tidak segera dilenyapkan dalam waktu yak cepat, sedikit demi sedikit akan menjadi rintangan yang besar, menjadi mekanisme psikis yang negatif yang akan sulit menghilangkannya.

Cara mudah untuk mengetahui adanya mekanisme psikis negatif ini yaitu; ada apa tidak rasa malas, rasa bosan pada saat akan belajar. Kalau ada, berarti telah muncul tanda-tanda yang tidak baik, dan makin kuat rasa bosan itu, maka makin mendalam mekanisme tersebut.[9]

Belajar di perguruan tinggi bisa diibaratkan masuk ke medan pertempuran yang penuh tantangan. Oleh karenanya, seorang mahasiswa harus mampu menerapkan teknik dan strategi yang baik agar dapat selamat dan berhasil dengan baik sampai ke tujuan; “kemenangan” yakni prestasi. Samuel Smith telah mengidentifikasi setidaknya terdapat empat penyebab utama inefisiensi dalam belajar (sebagai pangkal kegagalan dalam menempuh studi) yaitu; excessive haste (kesia-siaan), lack of planning (lemahnya perencanaan), careless reading (kecerobohan dalam membaca), dan ineffective methods of studying[10] (penerapan metode-metode belajar yang tidak efektif).

Beberapa ketrampilan utama dalam upaya membangun prestasi di bangku pergurua tinggi dapat diklasifikasikan dalam beberapa kelompok aktivitas sebagai berikut :

  1. Aktif Mengikuti Perkuliahan

Perkuliahan atau bentuk tatap muka dan interaksi antara Dosen dengan Mahasiswa merupakan satu komponen penting bagi keberhasilan studi yang tengah ditempuh oleh mahasiswa.  Kuliah merupakan salah satu metode mengajar di perguruan tinggi yang ditempuh oleh para dosen untuk menyampaikan berbagai pengetahuan ilmiah melalui tatap muka (secara lisan, tulisan, demonstrasi, praktek dan lain sebagainya) kepada para mahasiswa.

Dalam International Dictionary of Education, “kuliah” atau lecture dirumuskan dalam sebuah statemen sebagai berikut:

Teaching method in which facts or principles are presented orally to group of student who take notes, have little or no participations in learning, and experience passive rather than active learning. The lecturer may follow up his/her lecture with a seminar or tutorial.[11]

Artinya : Metode pengajaran yang dengannya fakta-fakta atau asas-asas disajikan secara lisan kepada kelompok mahasiswa yang membuat catatan-catatan, dengan sedikit atau tanpa partisipasi dalam belajar, dan mengalami proses belajar yang pasif daripada aktif. Dosen mungkin melanjutkan kuliahnya dengan suatu seminar atau bimbingan tatap muka oleh dosen pembantu kepada suatu kelompok kecil mahasiswa.

Meskipun telah tersedia berbagai sumber belajar, namun perkuliahan tetap memiliki arti penting dan strategis. Di dalam perkuliahan dimungkinkan akan muncul penjelasan terhadap pokok-pokok bahasan yang sukar untuk dipahami sendiri oleh mahasiswa serta akan diperolehnya banyak gagasan melalui interaksi di dalam ruang kuliah yang boleh jadi tidak terdapat/dibahas dalam buku-buku ajar. Mengikuti suatu perkuliahan hanya akan berhasil bila diminati dengan sungguh-sungguh ingin belajar sesuatu. Bila tidak demikian halnya, lebih baik belajar dirumah saja. Banyak mahasiswa yang terlambat mengetahui bahwa cara kerjanya adalah keliru. Usahakan agar dapat hadir pada waktu kuliah dimulai. Bila datang terlambat, selain mengganggu dosen juga tidak dapat mengikuti pendahuluan yang diterangkan dosen. Usahakan duduk di tempat terbaik dalam ruang kuliah, agar dapat melihat dengan jelas apa yang tertulis dipapan tulis dan mendengar apa yang dikatakan oleh dosen.

Karena itu, di sinilah pentingnya kuliah-kuliah awal (pendahuluan). Kuliah-kuliah awal merupakan wahana untuk memperoleh bahan apersepsi atas materi perkuliahan yang diikuti. Maka jika perlu, aktivitas membaca buku agak sedikit ditunda, misalnya sesudah mengikuti 2 (dua) kali perkuliahan, agar gambaran umum tentang suatu materi perkuliahan bisa dimengerti.

Di samping itu, kemampuan lain yang perlu dimiliki dan dikembangkan dalam mengikuti perkuliahan adalah membuat catatan. Catatan merupakan salah satu unsur penting yang dapat menunjang pemahaman mahasiswa. Catatan kuliah akan membantu mahasiswa merumuskan pokok-pokok pikiran yang disampaikan dosen, membuat kerangka ilmiah dari suatu teori, konsep atau materi yang disampaikan, serta bisa juga memuat resume, yang dapat membantu mahasiswa menganalisis permasalahan-permasalahan yang nantinya akan dijadikan sebagai bahan ujian. Sehingga disini sangat perlu ditekankan tentang perlunya kemampuan mencatat yang baik ketika mengikuti perkuliahan.

Mahasiswa yang tidak menyiapkan diri dengan baik untuk mengikuti kuliah, biasanya aka jatuh dalam suatu penyakit yang dikenal sebagai “stenografisme”, semua perkataan, kalimat yang keluar dari mulut dosen dicatat seluruhnya tanpa pemikiran.[12] Hal ini dikarenakan pada saat mengikuti perkuliahan, pikiran tidak “on” atau tidak bekerja, yang bekerja hanya telingan dan tangannya saja. Bahkan yang lebih parah lagi, pekerjaan stenografisme ini kadang-kadang tidak begitu mekanis, sehingga mahasiswa bisa melakukannya sambil melihat-lihat luar ruangan kelas atau mengalihkan perhatia/pandangan ke arah lain.

Stenografisme ini sudahlah pasti suatu kesalahan yang besar dan fatal. Setidaknya ada lima akibat sebagai buah dari pekerjaan ini.

  1. Mahasiswa akan mencatat bahan-bahan yang sangat besar/banyak. Pada gilirannya nanti, besarnya/ banyaknya bahan ini akan menimbulkan rasa malas sebelum belajar, dan tidak tahu darimana harus memulai.
  2. Dikarenakan ketika proses mencatat, mahasiswa tidak menggunakan daya pikir atau penalaran, maka ketika membaca kembali akan mengalami berbagai kesulitan. Kalimat-kalimat yang diucapkan dosen dalam perkuliahan terlihat begitu terang, belum tentu dalam bentuk catatan akan sama terang/jelasnya. Hal ini disebabkan, kalimat-kalimat kuliah adalah kalimat-kalimat untuk diucapkan sehingga tekanan-tekanan suara, pemberhentian kalimat, aksentuasi, yang kesemuanya itu bertujuan untuk menegaskan suatu pengertian, akan tidak bias terlihat dalam tulisan/catatan.
  3. Efek selanjutnya ialah, karena sulitnya memahami catatan-catatan kuliah tersebut, maka akan berakibat ditundanya belajar. Hal ini berangkat dari asumsi “nanti saja kalau catatannya sudah banyak/lengkap, mungkin bias menjadi terang”. Mahasiswa lupa , bahwa kuliah pertama merupakan basis (cantolan) untuk kuliah kedua, dan demikian seterusnya.
  4. Karena proses mencatat ini hanya mekanis, maka titik dan koma-pun juga dicatat seluruhnya. Untuk itu jelas dibutuhkan kecepatan menulis/mencatat yang luar biasa. Namun demikian, bagaimanapun cepatnya seseorang mencatat dengan tulisan biasa, tetap tidak bisa mengimbangi kecepatan bicara. Sehingga jelas akan banyak kata yang tertinggal, yang bisa jadi penting atau menjadi kata kunci.
  5. Karena otak tidak biasa digunakan, maka suasana ilmiahpun tidak akan bisa dilaksanakan secara baik. Akibatnya kelincahan berpikir, keriangan dalam beraktivitas tidak mampu dikembangkan lebih lanjut, seperti munculnya sikap kritis, rasa ingin tahu. Hal ini seringkali mengakibatkan mahasiswa jatuh ke dalam penyakit “pokokisme”.[13]

Satu ketrampilan lagi yang biasanya tidak banyak dimanfaatkan oleh mahasiswa adalah mengajukan pertanyaan. Hal ini dipicu oleh beberapa hal seperti; takut dianggap bodoh, menunggu saja kawan lain bertanya, menunggu saja apa yang akan terjadi kemudian, dan sebagainya.

Dalam mengikuti perkuliahan, biasanya ada sebagian materi yang belum jelas, yang bisa jadi disebabkan oleh kurang perhatian/konsentrasi, atau karena jalan pikiran antara mahasiswa dengan dosen berbeda ataupun ada jarak. Ketrampilan bertanya ini bisa dikembangkan baik secara lisan maupun tulisan. Sebaiknya dalam mengajukan pertanyaan ini, tidak ditunda sampai pertemuan/kuliah berikutnya. Ketika mahasiswa mendapatkan suatu ketidakjelasan, maka segeralah untuk dicatat, dan jangan berasumsi hal itu sepele ataupun takut dianggap bodoh oleh kawan lain. Pengembangan ketrampilan bertanya dalam perkuliahan, disamping dapat memperjelas permasalahan/materi perkuliahan, juga akan melatih berpikir kritis serta berlatih untuk aktualisasi diri. Dua kemampuan yang disebut terakhir ini, biasanya tidak diajarkan secara langsung di dalam perkuliahan, namun harus lebih dikembangkan sendiri oleh mahasiswa. Pada gilirannya nanti, kemampuan berpikir kritis serta aktualisasi diri ini akan memberikan kontribusi besar bagi kesuksesan kuliah dan karier.

Berpijak dari uraian di atas, maka kontribusi dari mengikuti kuliah dengan baik, dengan mengembangkan berbagai teknik yang tepat merupakan salah kunci utama keberhasilan mencapai prestasi yang baik di bangku kuliah.

Berbagai kemampuan tersebut mutlak untuk dimiliki serta dikembangkan oleh mahasiswa. Hal ini dikarenakan pola dan iklim belajar di perguruan tinggi sangatlah berbeda dengan pola belajar di jenjang-jenjang pendidikan sebelumnya. Iklim belajar di perguruan tinggi menuntut kemandirian dari para peserta didiknya.

  1. Belajar Mandiri

Aktivitas utama dalam belajar mandiri adalah membaca. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa jiwanya kuliah adalah “membaca”, sehingga membaca buku merupakan suatu keharusan. Kenapa membaca menjadi keharusan? Karena mahasiswa tidak bisa atau tidak boleh hanya mendasarkan pemahamannya kepada apa yang disampaikan oleh dosen, karena dengan alokasi waktu kuliah yang terbatas, maka sesungguhnya yang diberikan oleh dosen hanyalah pokok-pokok persoalan saja, bagaimana membahasnya. Dengan kata lain, dalam perkuliahan dosen lebih memberikan “kail” kepada mahasiswa, agar mereka mampu secara mandiri mngembangkan fakta, konsep serta bangunan keilmuan.

Berangkat dari pengalaman memberi kuliah, penulis menangkap fenomena, yang boleh jadi merupakan gejala yang agak umum, bahwa mahasiswa menginginkan segala sesuatunya serba mudah dan instant. Beberapa permintaan misalnya; Literaturnya jangan banyak-banyak dan sulit pak! Soal ujiannya yang mudah-mudah pak! Nilainya jangan pelit-pelit pak! Merupakan beberapa indikator bahwa tujuan perkuliahan hanyalah berputar-putar pada pemerolehan nilai yang baik. Kemauan dan kemampuan untuk bereksplorasi serta mengembangkan kemampuan keilmuan mereka masih relatif rendah, dan kondisi ini berujung pada rendahnya/ minimnya kemauan untuk membaca.

Menurut The Liang Gie, setidaknya terdapat 4 (empat) cirri dari seorang pembaca yang efisien; (1) mempunyai kebiasaan (habit) membaca yang baik, misalnya memusatkan perhatian secara sungguh-sungguh ketika mambaca, atau duduk tegak pada meja belajar (tidak sambil tiduran), (2) membaca secara tepat, (3) dapat menangkap dan memahami isi dari bahan bacaannya, dan (4) seusai membaca mambaca dapat mengingat butir-butir gagasan utama dari bahan bacaannya.[14] Tentunya untuk mencapai kemampuan membaca, sebagaimana terdapat dalam empat ciri tersebut tidaklah mudah. Dibutuhkan latihan, teknik/ketrampilan serta kemauan keras.

Belajar (dengan membaca) secara efektif, yang dalam hal ini dinamakan “Belajar Mendalam” mempunyai beberapa tahapan pokok sebagai berikut :

  • Tahap pertama  adalah tahap orientasi, yakni dengan mencoba memperoleh gambaran umum mengenai susunan dan isi suatu bahan. Tahap ini ditempuh dengan cara menyimpulkan garis besarnya dan bertanya kepada diri sendiri mengenai apa yang telah diketahui tentang bahan tersebut.
  • Tahap kedua adalah membaca secara mendalam, yakni mempelajari bahan sampai mengerti. Untuk itu diperlukan bantuan (tidak sekedar membaca) lain seperti; membuat skema, menggarisbawahi, memberi catatan pinggir dan sebagainya.
  • Tahap ketiga adalah tahap pengulangan. Biasanya tahap ini akan efektif jika langsung dilaksanakan setelah tahap kedua selesai. Tahap ini mempunyai tiga langkah yaitu; (1) membaca sepintas sambil memberi perhatian khusus pada bagian-bagian tertentu (missal: yang digarisbawah, catatan pinggir), agar dapat menolong pembaca untuk melihat struktur bahan secara keseluruhan, (2) mencoba mengulangi pokok-pokok bahan tanpa pertolongan teks atau buku, dan sebaiknya pokok-pokok tersebut ditulis kembali, dan (3) memeriksa kembali sampai sejauhmana pokok-pokok bahan tersebut dapat diingat dan dimengerti. Dari sinilah kekurangan-kekurangan yang masih ada dapat diisi atau disempurnakan.[15]

    Ada orang yang berpendapat bahwa waktu akan berkurang apabila bahan dibaca duakali secara mendalam. Tetapi pengalaman menunjukkan bahwa hal ini tidak benar. Dalam metode yang diuraikandi atas, seorang pelajar harus bekerja lima kali secara berlainan, sedangkan dalam cara kedua harus bekerja dua kali dengan cara yang sama. Setidaknya akan dapat diketahui bahwa yang dipelajari secara aktif dengan cara-cara yang berlainan sambil memperhatikan strukturnya akan dimengeti lebih baik dan diingat lebih lama. Hal yang penting diketahui adalah bahwa apabila belajar dengan banyak variasi, maka akan lebih senang belajar.

Dalam waktu yang sama hasil lebih efektif dengan metode: “Belajar mendalam”. Untuk melalui cara belajar seperti di atas, tentu saja akan memerlukan latihan. Pada tahap permulaan seseorang memerlukan banyak waktu, tetapi lama kelamaan anda akan merasa proses belajar semakin cepat dan akhirnya suatu kebiasaan.

    Pada dasarnya membaca buku memiliki beberapa keuntungan, antara lain (1) untuk memperluas pengetahuan/ materiil lebih lanjut, (2) agar memperoleh bahan pembanding yang baik, dan (3) agar lebih merangsang dan memacu lebih lanjut kegiatan belajar (coriousity).[16]

Semakin luas dan kaya pengetahuan yang dimiliki oleh seorang mahasiswa, maka akan semakin banyak bahan-bahan komparasi sebagai titik tolak pengembangan sebuah gagasan pikir. Dengan kekayaan bahan-bahan pembanding tersebut, maka semakin luaslah cakrawala pandang keilmuannya, yang pada gilirannya akan menjadikannya semakin tertarik, tekun dan makin haus akan ilmu pengetahuan yang digelutinya.

Faktor lain yang tak kalah pentingnya dalam menunjang keberhasilan belajar adalah factor eksternal. Faktor eksternal dalam hal ini adalah menciptakan suasana atau lingkungan belajar yang kondusif. Makna lingkungan belajar yang kondusif ini tentulah akan berlainan antara satu individu dengan individu yang lain. Sehingga pada point ini, peran masing individu dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bisa dibangun dan dilatih. Bisa jadi, kemampuan ini berangkat dari hasil membaca, atau dari pengalaman orang lain yang kemudian cocok diterapkan dalam diri individu yang bersangkutan.

Suasana kondusif yang dimaksud disini pada prinsipnya lebih bersifat personal. Dengan kata lain, suasana yang kondusif bagi seseorang tidak bisa dipaksakan dalam diri orang lain. Hal ini berangkat dari kenyataan bahwa kenikmatan dan efektifitas belajar  masing-masing orang akan berlainan. Ada yang belajar harus dalam ruangan khusus, dengan suasana tenang, jauh dari gangguan. Namun ada sebagian lagi yang justru harus diiringi dengan musik dan bisa dimanapun. Sehingga konsentrasi dan kenikmatan belajar ini harus ditemukan oleh masing-masing individu.

  1. Belajar Kelompok

Sudah menjadi suatu kenyataan yang sulit disangkal bahwa didalam belajar, orang membutuhkan bantuan orang lain. Di dalam belajar orang tidak bisa berdiri sendiri. Dan sekarang ini timbul gejala yang sedang berkembang, yaitu adanya saling tolong menolong antar mahasiswa sendiri, mereka mengadakan kelompok-kelompok belajar bersama, sebab menurut pengalaman mereka sendiri belajar bersama itu lebih mudah, lebih efektif dan lebih terjamin kebenarannya.

Prestasi studi yang mereka capai dengan belajar bersama jauh lebih baik daripada prestasi study sendiri. Pengalaman ini meskipun belum bisa diformulasi menjadi kesimpulan yang meyakinkan, pengalaman praktis inilah yang mendorong adanya regu-regu belajar bersama. Bisa dikatakan bahwa regu-regu ini meliputi sebagian besar dari mahasiswa. Ada yang sudah dengan ikatan tetap, ada insidentil sifatnya, ada yang sodah kontinyu, ada yang fragmentaris.[17]

Belajar bersama ini mempunyai beberapa keuntungan pokok,antara lain :

  • Saling membenarkan/mengkritisi,
  • Saling mengingatkan,
  • Saling melengkapi,
  • Lebih kaya perbandingan.

Dengan belajar bersama orang bisa menyatakan kepada temannya yang kebetulan lebih mengerti, bisa tukar pengalaman sehingga mengoreksi pikiran-pikiran yang salah, bisa saling memberi sehingga memperlengkap bahan dan sebagainya. Dalam hal ini ada 2 periode di dalam belajar bersama, yaitu :

  1. Periode orientasi dimana orang saling menambah bahan, saling melengkapi bahan, saling menanyakan hal-hal yang tidak dimengerti.
  2. Periode evaluasi dimana orang saling membahas bersama-sama sampai dimana kebenaran pendapat nya, saling mengkritik, saling mengoreksi, saling memberikan argumentasi dan sebagainya.[18]

Adapun teknis belajar kelompok ini perlu dikembangkan agar kegiatan tersebut berjalan terarah dan tidak manjadi ajang “ngobrol” semata. Ada beberapa langkah yang bisa dikembangkan dalam membangun kelompok belajar yaitu :

  • Buatlah kelompok paling banyak lima orang, agar lebih efektif, dan usahakan setiap individu yang terlibat mempunyai kesungguhan,
  • Susun rencana kerja beserta jadwal yang disepakati oleh kelompok. Buat penugasan serta tentukan buku/bahan-bahan yang akan dikaji untuk jangka waktu tertentu,
  • Pada setiap pertemuan, masing-masing anggota kelompok harus sudah membaca bahan yang akan dibahas. Di dalam pertemuan, masing-masing yang sudah siap dengan bahan yang dipelajari tersebut menjelaskan maksudnya, sementara anggota lain mengkritisi, dan seterusnya,
  • Selama diskusi berjalan, buatlah catatan tentang hal-hal yang disalah mengerti atau dilupakan.[19]

 

  1. Memanfaatkan Perpustakaan

Dalam dunia pendidikan tinggi perpustakaan merupakan “jantung” sebuah perguruan tinggi. Ia merupakan salah satu komponen (fasilitas) pokok penunjang aktivitas belajar-mengajar di perguruan tinggi, disamping sarana lain seperti, laboratorium, ruang kuliah, dan sebagainya.

Tidak ada kegiatan belajar di perguruan tinggi yang dapat di laksanakan tanpa pembacaan dan gudang bacaan adalah perpustakaan. Bahkan menurut penulis dan sejarawan Thomas Carlye (1795-1881), Universitas sejati dewasa ini adalah sekumpulan buku (The true university of these days is a collections of books ) Perpustakaan adalah sebuah bangunan gedung beserta semua isinya berupa buku-buku dan bahan bacaan lainnya serta berbagai sumber pengetahuan seperti misalnya film, kaset, dan piringan hitam yang diserahkan untuk dimanfaatkan oleh para pengguna.[20]

Untuk memiliki semua bahan/materi/buku kuliah, baik yang wajib maupun anjuran, rasanya tidaklah mungkin. Berapa besar biaya yang harus dikeluarkan, disamping dunia keilmuan terus berkembang dari hari ke hari, sehingga sudah barang tentu akan muncul karya-karya terbaru yang sangat dibutuhkan.

Memang terdapat keuntungan besar dengan memiliki buku-buku (perpustakaan) pribadi. Disamping bisa dimanfaatkan sewaktu-waktu, juga bisa membuat catatan-catatan di dalam buku tersebut, sekirannya dipandang perlu. Maka dalam hal ini, mahasiswa harus selektif memilih buku mana yang wajib dibeli untuk memperoleh keuntungan tersebut.

Perpustakaan itu hanya dapat memberikan mafaat yang sebesar-besarnya kepada mahasiswa kalau ia mengetahui bagaimana menggunakannya. Untuk menjadi seorang pengguna perpustakaan yang cerdas, ada sekurang kurangnya 4 langkah yang perlu ditempuh, yaitu :

  1. Mengetahui waktu kerja perpustakaan perguruan tingginya.
  2. Mempelajari semua peraturan tata tertib penggunaan perpustakaan.
  3. Memahami tertib penggolongan buku pada perpustakaan.
  4. Menguasai rakitan buku ilmiah dan cara-cara memanfaatkannya.[21]

Seorang mahasiswa haruslah sedemikian akrab dengan perpustakaan, dan bisa dikatakan kehidupan kampus adalah kehidupan perpustakaan. Dalam memanfaatkan perpustakaan ini, penting diketahui beberapa prinsip, antara lain :

  • Tidak perlu meminjam semua buku yang disampaikan dosen
  • Lihat sepintas isinya, sesuai atau tidak dengan kebutuhan materi yang diinginkan
  • Jangan meminjam dan membawa pulang buku perpustakaan jika sekiranya tidak akan dibaca.
  • Bahan pustaka selain buku seperti; jurnal, majalah, Koran juga penting untuk diakses.[22]

Demikian paparan tentang empat komponen penunjang keberhasilan belajar (prestasi) di perguruan tinggi.

  1. CATATAN AKHIR

Pola belajar mahasiswa merupakan suatu pengorganisasian aktivitas belajar guna mencapai prestasi yang baik/ maksimal dan kesuksesan menempuh studi di perguruan tinggi. Meskipun terdapat faktor lain yang ikut menentukan kesuksesan seorang mahasiswa, namun faktor pola belajar ini merupakan faktor terpenting, karena menyangkut aktor utama (baca: mahasiswa). Kontribusi dari pengembangan pola ataupun strategi belajar di bangku kuliah dengan baik, merupakan salah kunci utama keberhasilan mencapai prestasi yang baik.

Berbagai kemampuan tersebut mutlak untuk dimiliki serta dikembangkan oleh mahasiswa. Hal ini dikarenakan pola dan iklim belajar di perguruan tinggi sangatlah berbeda dengan pola belajar di jenjang-jenjang pendidikan sebelumnya. Iklim belajar di perguruan tinggi menuntut kemandirian dari para peserta didiknya. Jika kemandirian belajar ini telah mencapai pada tahapan kenikmatan belajar, maka pencapaian prestasi yang tinggi di perguruan tinggi akan semakin terbuka lebar.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, prestasi belajar diartikan sebagai “penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru”[23]

Prestasi belajar merupakan suatu kondisi yang diciptakan sehingga interaksi antara pendidik dan peserta didik akan dapat saling diukur. Peserta didik akan puas dengan capaian hasil belajarnya, sementara pendidik akan memperoleh feed-back guna peningkatan kualitas pengajarannya.

Dalam konteks ini, memang tidak bisa secara mutlak dikatakan bahwa, pola belajar merupakan satu-satunya faktor yang menentukan prestasi belajar. Banyak faktor lain yang menjadi kontributor atau justru sebagai penghambat prestasi. Bagaimana cara mengajar dosen? Bagaimana dukungan sarana prasarana yang ada? Apakah struktur kurikulum yang ada sudah sesuai dengan minat siswa, sehingga bisa meningkatkan prestasi? Inilah beberapa faktor lain yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Dan penulis yakin bahwa semua faktor tersebut ikut memberikan pengaruh bagi pencapaian prestasi belajar mahasiswa.

Namun demikian dari sudut pandang kemandirian belajar maka pola belajar merupakan faktor yang paling dominan di antara banyak faktor lain, dalam upaya mencapai prerstasi yang baik di bangku kuliah. 


DAFTAR PUSTAKA

Anton M. Moeliono, et. al., Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993).

Azyumardi Azra, Esei-Esei Intelektual Muslim Pendidikan Islam, (Jakarta: Logoss, 1999).

Ad. Rooijakkers, Cara Belajar di Perguruan Tinggi Beberapa Petunjuk Praktis, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001), Cet. VII.

Clifford T. Morgan, Ricard A. King,  An Introduction to Psychology, (Tokyo: Mc Graw Hill Kogakusha, 1997). 

Gordon Dryden, Dr., Dr. Jeannette Vos, Revolusi Cara Belajar, (Terj.), (Bandung: Kaifa, 1999).

G. Terry Page, at.al., International Dictionary of Education, (Cambridge: The MIT Press, 1980).

James Deese, Ellin K. Deese, How to Study, (New York: McGraw-Hill, 1979).

Samuel Smith, Best Methods of Study, (New York: Barnes and Noble Books, 1970).

Suharsimi Arikunnto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta, 1993).

Sutrisno Hadi, M.A., Prof., Drs., Metodologi Research I, (Yogyakarta: Fak. Psikologi UGM, 1986).

 

————————, Metodologi Research, (Yogyakarta: Andi Offset, 1993).

The Liang Gie, Cara Belajar yang Baik bagi Mahaiswa (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2000).

Timur Mahardika, 30 Menit Mengenal Cara Belajar Efektif di Perguruan Tinggi (Solo: Pondok Edukasi, 2003).

Winarno Surachmad, M.Ed., Prof., Dr., Dasar dan Teknik Research, (Bandung: Tarsito, 1987).


[1] Deese, James, Ellin K. Deese, How to Study, (New York: McGraw-Hill, 1979), hlm.116.

[2] Azyumardi Azrz, Esei-Esei Intelektual Muslim Pendidikan Islam,(Jakarta: Logoss, 1999), hlm. 60.

[3] Clifford T. Morgan, Ricard A. King,  An Introduction to Psychology, (Tokyo: Mc Graw Hill Kogakusha, 1997), hlm. 783. 

[4]The Liang Gie, Cara Belajar yang Baik bagi Mahaiswa (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2000), hlm. 2-3.

[5] Timur Mahardika, 30 Menit Mengenal Cara Belajar Efektif di Perguruan Tinggi (Solo: Pondok Edukasi, 2003), hlm. 3.

[6] Anton M. Moeliono, et. al., Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), hlm.  692.

[7] Ibid., hlm. 13.

[8] Dryden, Gordon, Dr. Jeannette Vos, Revolusi Cara Belajar, (Terj.), (Bandung: Kaifa, 1999), hlm. 129-130.

[9] Timur Mahardika, Op. Cit., hlm. 13-14.

[10] Smith, Samuel, Best Methods of Study, (New York: Barnes and Noble Books, 1970), hlm. 1.

[11] G. Terry Page, at.al., International Dictionary of Education, (Cambridge: The MIT Press, 1980), hlm. 203.

[12] Timur Mahardika, Op. Cit., hlm. 28.

[13] Ibid., hlm. 28 – 31.

[14] The Liang Gie, Op. Cit., hlm. 6.

[15] Ad. Rooijakkers, Cara Belajar di Perguruan Tinggi Beberapa Petunjuk Praktis, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2001), Cet. VII, hlm. 32-33.

[16] Timur Mahardika,  Op. Cit., hlm. 40.

[17] Timur Mahardika, Op. Cit., hlm. 62.

[18] Ibid., hlm. 64.

[19] Ad. Rooijakkers, Op. Cit., hlm. 43.

[20] The Liang Gie, Op. Cit., hlm. 41.

[21] Ibid.

[22] Ad. Rooijakkers, Op. Cit., hlm. 28-29.

[23] Anton M. Moeliono, Op. Cit., hlm. 721

Tentang abdulwahidilyas

abdul wahid, staf pengajar di Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, beralamat di Jl. Candi Prambanan VI/1444 Kalipancur Semarang
Pos ini dipublikasikan di Perkuliahan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s