Pendidikan Pluralistik

PENDIDIKAN PLURALISTIK

Belajar dari SMU Muthahhari

Kerusuhan-kerusuhan bernuansa SARA yang kerap terjadi di tanah air merupakan akibat dari ekspresi keberagamaan yang keliru di dalam masyarakat kita. Ekspresi keberagamaan yang ditampilkan seringkali masih bersifat eksklusif, fanatisme berlebih untuk memonopoli kebenaran dan keselamatan hidup. Ditengarai ekspresi keberagamaan tersebut merupakan hasil dari pendidikan agama yang eksklusif. Pendidikan Agama masih banyak memproduk individu-individu yang memandang golongan atau agama lain sebagai lawan. Bentuk-bentuk kerusuhan tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa secara kolektif bangsa ini belum belajar banyak tentang bagaimana hidup berdampingan dalam harmoni, atau setidaknya sendi-sendi kebersamaan sudah mulai ditinggalkan.  Hal ini tentu berawal dari kelemahan atau kurang berhasilnya agen-agen sosialisasi  utama seperti keluarga dan lembaga pendidikan dalam menanamkan sikap toleransi-inklusif dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

 

 

  1. A.    PENDAHULUAN

Di dalam Al-Qur’an dinyatakan bahwa manusia adalah umat yang satu (Ummatan wahidah), “Manusia itu adalah umat yang satu, maka Allah mengutus para Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.”   Di dalam ayat lain juga secara tegas Allah menerangkan kepada kita bahwa manusia diciptakan berbangsa-bangsa dan bersuku suku supaya mereka saling mengenal. Kemajemukan adalah sebuah ketentuan Allah terhadap kehidupan. Pada era multikulturalisme dan pluralisme seperti sekarang ini, manusia dihadapkan kepada beragam persoalan yang boleh jadi menguji karakter masing-masing individu dalam konteks relasi-relasi sosial. Keragaman dalam hidup merupakan sebuah kenyataan yang harus disadari oleh masing-masing individu.

Di dalam masyarakat sering dijumpai perselisihan antar kelompok yang bermotifkan keyakinan, baik intern maupun antar umat beragama. Perselisihan antar anggota masyarakat yang merasa berbeda mazhab, maupun antar pemeluk agama keram menghiasi lembar-lembar berita. Perbedaan dan perselisihan tersebut sering berujung pada pertikaian, bahkan hingga terjadi pengrusakan, penganiayaan hingga pembunuhan. Sebut saja kerusuhan berskala nasional seperti Ambon, Poso, Sambas, yang memakan ribuan korban, merupakan bukti konkrit bahwa sikap saling menghargai pluralisme dalam masyarakat Indonesia yang beragam ini belum terbangun dengan kokoh.

Kerusuhan-kerusuhan bernuansa SARA yang kerap terjadi di tanah air merupakan akibat dari ekspresi keberagamaan yang keliru di dalam masyarakat kita. Ekspresi keberagamaan yang ditampilkan seringkali masih bersifat eksklusif, fanatisme berlebih untuk memonopoli kebenaran dan keselamatan hidup. Ditengarai ekspresi keberagamaan tersebut merupakan hasil dari pendidikan agama yang eksklusif. Pendidikan Agama masih banyak memproduk individu-individu yang memandang golongan atau agama lain sebagai lawan.

Bentuk-bentuk kerusuhan tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa secara kolektif bangsa ini belum belajar banyak tentang bagaimana hidup berdampingan dalam harmoni, atau setidaknya sendi-sendi kebersamaan sudah mulai ditinggalkan.  Hal ini tentu berawal dari kelemahan atau kurang berhasilnya agen-agen sosialisasi  utama seperti keluarga dan lembaga pendidikan dalam menanamkan sikap toleransi-inklusif dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Dari sinilah disadari betapa urgennya ikhtiar membangun kesadaran pluralisme melalui jalur pendidikan, dengan maksud membuka cakrawala pandang masyarakat agar siap dan mampu melintas batas kelompok etnis, tradisi, budaya dan khususnya agama.

     

  1. B.     PENDIDIKAN AGAMA DAN PLURALISME

Sejak kelahirannya, Islam sudah berada di tengah-tengah budaya dan agama-agama lain. Ketika Rasulullah berdakwah, di sana sudah terdapat agama Yahudi dan Kristen. Di dalam Al Qur’an-pun juga banyak disebut kontak Islam dengan komunitas-komunitas agama lain. Perdagangan yang dilakukan bangsa Arab pada waktu itu ke Syam, Irak, Yaman dan Ethiopia, serta posisi kota Mekkah yang menjadi pusat transit perdagangan yang menghubungkan daerah-daerah di sekitar jazirah Arab seperti Byzantium, Persia, Mesir, Ethiopia, menjadikan agama-agama yang ada di wilayah Timur Tengah dan sekitarnya tidak asing lagi bagi Rasulullah Saw.[1]

Pada era kenabian Muhammad, masyarakat pluralistic secara religius telah terbentuk dan sudah pula menjadi kesadaran umum pada saat itu. Keadaan demikian, sudah sewajarnya lantaran secara kronologis agama Islam memang muncul setelah terlebih dahulu berkembang agama-agama lain seperti Hindu, Budha, Kristen, Katholik, Majusi, Zoroaster, Mesir Kuno maupun agama-agama lain. Untuk itu “dialog” antar iman termasuk sentra yang mewarnai Al-Qur’an.[2]

Dalam konteks pluralisme, sikap yang hendaknya dibangun dalam diri setiap individu pemeluk agama adalah sikap saling menghormati satu sama lain, menghargai perbedaan, mau saling belajar, membiasakan hidup dalam perbedaan dan senantiasa menerapkan prinsip agree in disagreement (setuju dalam ketidaksetujuan). Hal ini sangat penting agar dapat meredam dan menangkal potensi konflik yang secara late nada di dalam masyarat yang memiliki tingkat heterogenitas tinggi.

Menurut John Sealy dalam bukunya Religious Education:  Philosiphical Perspective (1986), Pendidikan Agama mempunyai tempat yang sangat penting dan strategis dalam upaya menanamkan sikap pluralisme. Hal ini dikarenakan Pendidikan Agama memiliki fungsi neo confessional, yaitu disamping berfungsi untuk meningkatkan keberagaan peserta didik dengan keyakinan agamanya, juga berfungsi  memberikan kemungkinan keterbukaan untuk mempelajari dan mempermasalahkan agama lain sebatas bertujuan menumbuhkan sikap teleransi.[3]

Senada dengan pendapat di atas H.A.R. Tilar menyatakan pendidikan agama dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengembangkan moralitas universal yang ada dalam agama-agama, kemudian direkonstruksi secara komprehensif dan dinamis dalam upaya membangun suatu masyarakat yang bermoral  dan beradab.[4] Dalam sebuah sinyalemennya Tilaar menyebut praktik pendidikan agama yang ekslusif dan dogmatis selama ini, sedikit banyak telah menyumbang dan mengabdikan konflik intern dan ekstern umat  beragama.

Potensi konflik yang terjadi dalam masyarakat seringkali dipicu oleh praktik pengamalan keagamaan yang bersifat sempit. Ian G. Barbour, sebagaimana dikutip oleh Amin Abdullah menerangkan beberapa hal terkait dengan persoalan tersebut. Menurutnya, struktur fundamental bangunan pemikiran teologi selama ini, biasanya terkait erat dengan karakteristik berikut ini: pertama, kecenderungan untuk mengutamakan loyalitas kepada kelompok sendiri yang sangat kuat. Kedua, adanya keterlibatan pribadi (involvement) dan penghayatan yang begitu kental dan pekat kepada ajaran-ajaran teologi yang diyakini kebenarannya. Ketiga, mengungkapkan perasaan dan pemikiran dengan menggunakan bahasa aktor dan bukannya bahasa seorang pengamat. Menyatunya ketiga karakteristik tersebut dalam diri seseorang atau kelompok tertentu memberi andil yang cukup besar bagi terciptanya ‘enclave-enclave’ komunitas teologi yang cenderung bersifat eksklusif, emosional dan kaku.[5]

Pluralisme dapat dipahami sebagai sebuah sikap yang mengakui dan menghargai keadaan yang plural secara etnis, kebudayaan dan keagamaan tertentu, karenanya sikap ini harus ditumbuh-kembangkan pada diri generasi muda melalui pendidikan agama khususnya. SMU Plus Muthahhari (SMUTH) memandang Pendidikan Agama merupakan sarana yang sangat efektif untuk menginternalisasikan nilai-nilai dan akidah inklusif kepada peserta didik. Perbedaan agama di antara peserta didik bukan merupakan penghalang untuk bisa bermuamalah. Pendidikan Agama justru dapat dijadikan sarana bagi peserta didik untuk menggali dan menemukan nilai-nilai keagamaan pada agamanya masing-masing sekaligus mengenal tradisi agama orang lain.

Mencermati dan melihat maksud/tujuan didirikannya Yayasan Muthahhari[6] setidaknya akan terbersit harapan untuk menemukan jawaban atau solusi bagi keinginan untuk merespon persoalan pluralisme. Maksud dan tujuan lembaga pendidikan ini adalah: pertama, Pendidikan Muthahhari bertujuan untuk mempelajari ide-ide baru bagi pengembangan pemikiran Islam dari Muthahhari yang relevan dengan tantangan-tantangan kontemporer. Kedua, menyebarkan sikap-sikap religius yang didasarkan pada keterbukaan, non-sektarianisme, toleransi dan pencerahan pemikiran Islam. Ketiga, membangun sistem pendidikan yang memberikan informasi mengenai persoalan-persoalan kontemporer kepada para pelajar dalam kalangan ilmu-ilmu tradisional, dan pada saat yang sama memberikan pelatihan dalam ilmu-ilmu Islam tradisional kepada para pelajar dari kalangan ilmu-ilmu modern. Keempat, menumbuhkan kesadaran Islam melalui gerakan dakwah yang direncanakan dan disusun secara professional.[7]

SMUTH menyadari, bahwa untuk menumbuh kembangkan kecintaan, saling menghormati satu agama dengan agama lain maupun intern umat beragama, perlu dikembangkan sebuah konsep dan pemahaman tentang pluralisme melalui Pendidikan Agama.

Dalam pendidikannya, pemahaman Islam yang hendak dikembangkan oleh SMUTH adalah pemahaman dan pemikiran yang bersifat inklusif. Artinya bersifat terbuka, mampu mengakomodasi dan menyerap sisi-sisi baik dari faham kemanusiaan dan faham keagamaaan lain, sejauh hal itu tidak merusak prinsip-prinsip ajaran dasar Islam. Dalam praktiknya, Muthahhari tidak mengasramakan siswa (boarding school), sebab system ini dianggap akan mengisolir siswa dari lingkungan sosialnya, atau menempatkan peserta didik dalam sebuah lingkungan yang eksklusif. Asrama Muthahhari berada atau berbaur di masyarakat, dengan harapan para peserta didik memiliki social intelligence dan membiasakan mereka mengembangkan sikap terbuka.

Kegiatan ini yang mungkin paling menarik dan jarang dijumpai di lembaga pendidikan lain. SMUTH tidak jarang mendatangkan intelektual ataupun teolog dari agama lain, bertaraf nasionalbahkan internasional, untuk memberikan kuliah umum (stadium general). Sebut saja pada tanggal 12 Januari 2002, telah diselenggarakan Dialog Antar Agama yang bertemakan “Muhammad dalam Pandangan Kristen” yang menghadirkan salah seorang pengamat agama nasional, Jakob Sumardja. Dari hasil dialog tersebut, sampailah pada suatu kesimpulan di  antaranya,  “bahwa para sejarawan agama sudah lama dan bahkan berulangkali menyatakan bahwa Yahudi, Kristen dan Islam tumbuh dalam rumpun yang sama, dikenal dengan istilah Abrahamic Religion (Agama yang dibawa Ibrahim). Secara geneologis, semua pembawanya (para Nabi dan Rasul) merupakan anak keturunan Ibrahim, yang menyampaikan ajaran monoteisme yang intinya sikap penyerahan diri secara total kepada Tuhan”.

Forum-forum semacam ini tentu dapat menjadi wahana membangun sikap toleran dan memahami perbedaan sekaligus menemukan titik-titik persamaan dalam konteks perbedaan agama. Muthahhari nampaknya telah berusaha menumbuhkan dan memelihara pemahaman inklusif para peserta didik melalui system pendidikannya. Melalui forum dialog ini Muthahhari berusaha menunjukkan komitmennya terhadap masalah-masalah sosial keagamaan yang bersifat terbuka dan menjadi perintis kerjasama bagi agama-agama lain.  

  1. C.    IMPLEMENTASI PLURALISME DALAM PENDIDIKAN AGAMA

Pluralitas agama merupakan sunnatullah  yang tidak bisa disangkal ataupun dihindari. Menurut Jalaluddin Rahmat, dalam realitasnya terdapat ribuan agama di  dunia. Menurutnya, pada agama-agama yang sudah diakui secara resmi saja kita melihat keragaman yang luar biasa, apalagi jika kita melihat cara setiap orang menjalankan agamanya. “Satu Tuhan banyak agama” merupakan realitas yang harus dihadapi oleh umat manusia pada masa sekarang.

Disebut SMU (Plus) Muthahhari –bukan SMU Unggulan-  dikarenakan adanya tambahan beberapa mata pelajaran. Tambahan yang pertama, adalah bahasa Inggris ekstra, dimana tenaga pengajarnya adalah native speaker, yang berasal dari Amerika atau Australia. Tambahan yang kedua adalah computer, yang dipandang sudah menjadi kebutuhan untuk masa mendatang. Tambahan ketiga adalah dirasah Islamiyyah, yang mencakup pelajaran ilmu-ilmu dasar keislaman seperti; Ulum al-Qur’an, Ulum al-Hadits, al-Fiqh al-Muqaran, Ushul Fiqh. Ilmu-ilmu dasar keislaman ini dimaksudkan untuk membekali peserta didik dengan pengetahuan keagamaan. Di samping itu diberikan pula pelajaran Bahasa Arab.

SMUTH mempunyai karakter sebagai lembaga pendidikan berbasis agama yang mengembangkan kesadaran pluralisme. Dalam praktiknya, kesadaran akan heterogenitas, saling menghargai, serta membangun solidaritas sosial dijadikan sebagai orientasi pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas. Pendidikan Agama diarahkan dapat menjadi panduan dalam konteks hidup bersama dalam perbedaan, baik secara individual maupun kelompok, serta tidak terjebak pada primordialisme dan eksklusivisme kelompok agama dan budaya yang sempit dan kaku. Sikap ini disadari oleh SMUTH perlu ditumbuh-kembangkan pada diri generasi muda melalui dimensi-dimensi pendidikan agama.

Implementasi pluralisme dalam dimensi pendidikan agama ini dijabarkan dalam empat aspek yaitu:

  1. Aspek Akidah

Akidah merupakan elemen sentral dan utama dalam ajaran Islam. Dalam Islam persoalan akidah harus didudukkan dalam kemutlakan. Namun demikian, akidah seseorang harus diwujudkan dalam tindakan nyata, baik secara individu maupun di dalam bingkai kehidupan sosial kemasyarakatan. Disinilah seringkali timbul ”pertentangan” ketika akidah Islamiyah berhadapan dengan keimanan orang yang beragama lain. Persoalan ini tentu tidak hanya dihadapi oleh Islam, namun oleh agama lain pula. Dalam realitasnya, tak heran jika kemudian muncul persoalan truth claim dan salvation claim di antara umat berlainan agama, yang acapkali berakhir dengan konflik dan kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Untuk mengatasi persoalan tersebut SMUTH menekankan kepada peserta didiknya akan pentingnya ”persaudaraan” umat beragama. Materi akidah tidak hanya ditekankan kepada hafalan-hafalan materi tentang keimanan, namun lebih menekankan penghayatan keimanan dalam praktik keseharian di dalam masyarakat. Akidah harus menghasilkan amal dan akhlak yang baik terhadap Allah, sesama umat manusia dan alam sekitarnya.

Secara prinsip Kurikulum Pendidikan Agama di SMUTH berorientasi pada akhlak. Kelas Satu berorientasi peda ”mengguncangkan keimanan”. Dalam praktiknya,  pada tahap ini semua peserta didik diminta untuk merasakan jadi orang yang beragama lain atau atheis sekalipun. Tujuannya bukan untuk ”konversi” namun justru dalam rangka meneguhkan iman. Akidah harus dipahami sendiri oleh mereka, bukan dengan cara taklid, karena taklid dalam pesoalan akidah tidak dapat dibenarkan. Kelas Dua diarahkan kepada masalah syari’ah. Dalam persoalan syari’ah, sering dijumpai perbedaan pendapat yang kadang cukup tajam di kalangan umat Islam. SMUTH memberikan materi Fiqh Muqarran, dalam rangka memberikan penjelasan adanya perbedaan pendapat dalam Islam dan semua pendapat itu sama-sama memiliki dasar atau argumen. Karenanya, dalam menyikapi perbedaan itu harus dibangun sikap saling menghargai dan menerima perbedaan tersebut. Pihak sekolah tidak menentukan mazhab yang wajib diikuti oleh peserta didik, namun diserahkan kepada mereka masing-masing untuk menentukannya.

SMUTH memandang ”iman” yang dimiliki oleh setiap pemeluk agama bersifat dialogis, dalam arti bahwa iman merupakan proses dialog antara manusia denga Tuhan serta dengan sesama manusia. Iman merupakan sebuah pengalaman batiniah ketika seseorang melakukan ”perjalanan” menemukan Tuhan. Pada tingkat tertentu iman harus didialogkan dengan sesama manusia dengan menggunakan ”bahasa” manusia.

Pendidikan akidah seperti ini tentu menuntut fairly and sensitively serta menuntut keterbukaan fakir (open-minded). Di sisi lain juga menuntut peserta didik untuk bersikap objective, dalam arti sadar bahwa membicarakan iman secara fair itu tidak dalam rangka menemukan jawaban mengenai benar atau validnya suatu agama. Di sisi lain juga bersikap subjective, dalam arti menyadari bahwa pengajaran seperti itu sifatnya hanya untuk mengantarkan setiap peserta didik memahami dan merasakan sejauhmana keimanan suatu agama itu dapat dirasakan oleh orang yang mempercayainya.[8]

Penerapan Akidah Inklusif  tentu bukan untuk menciptakan kesamaan pandangan, apalagi keseragaman, karena jelas hal adalah absurd. Yang hendak ditemukan adalah titik-titik pertemuan yang dimungkinkan secara teologis oleh masing-masing agama. Untuk membangun hal tersebut dibutuhkan dialog dengan bermodalkan kerendahan hati dan keterbukaan pikiran untuk membandingkan konsep-konsep ideal yang dimiliki agama lain, agar terhindar dari penilaian dengan standar ganda, apalagi kebencian.

 Berangkat dari asumsi dasar bahwa pluralitas agama merupakan sunnatullah, maka SMUTH melalui majalah dan buku-buku yang diterbitkan –baik yang ditulis oleh Jalaluddin Rahmat, para guru maupun siswa- memperkenalkan bahwa perbedaan manusia dengan agama yang dipercayainya merupakan merupakan kenyataan ontoligis yang tak terbantahkan. Karenanya, dialog yang santun menjadi sebuah prasyarat terbangunnya pluralitas yang sehat, terlebih dalam era globalisasi dewasa ini. Dalam era globalisasi pluralitas sosial, kultur, ideologi bahkan agama merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh setiap umat beragama, tidak bisa ditolak. Menolak pluralitas justru akan sangat membahayakan terciptanya kedamaian yang diidamkan semua pihak.

  1. Aspek Spiritual

Pendidikan merupakan proses menuju kesempurnaan individu. Dalam pandangan SMUTH, pendidikan spiritual merupakan usaha sadar untuk menghantarkan peserta didik memiliki hubungan  yang sangat kuat antara ruhani manusia dengan Sang Pencipta, dengan kata lain sebagai upaya mencapai ma’rifah ruhiyah. Dalam perjalanan ruhani ini manusia harus dapat menyerap  asma Allah yang merupakan cerminan sifat-sifat-Nya, seperti Pengasih dan Penyayang.

Seseorang yang mengkaji tradisi keagamaan Islam segera akan menyadari bahwa di bawah lapisan dohma monoteistik yang kokoh serta ketat dan hukum monolitik terdapat kehidupan bawah tanah dari pengalaman keagamaan yang  kaya. Kehidupan yang dimaksud disini adalah kehidupan para mistikus Islam. Kehidupan yang penuh toleransi dan keramahan mistisisme terhadap agama-agama  lain yang terejawantahkan dalam dialognya yang mendalam dengan agama-agama lain.

Aspek spiritual yang ditanamkan di SMUTH adalah spiritual yang bukan sekedar metode pencarian makna, namun merupakan fondasi bagi pencarian itu sendiri. Berdasarkan pandangan tersebut, Jalaluddin Rahmat menjelaskan beberapa hal:  pertama, pendidikan harus memperhatikan perpaduan antara tubuh dan jiwa. Harus disadari bahwa hal-hal yang bersifat fisik akan sangat mempengaruhi  psikis, seperti, persepsi, kognisi, kensepsi diri dan sebagainya. Kedua, manusia memiliki kemampuan yang hampir tak terbatas. Tubuh dan jiwa manusia dapat berkembang jauh melebihi dari apa yang kita bayangkan. Pendidikan harus berusaha mengoptimalkan seluruh potensi ini. Ketiga,  dimensi mistikal dalam kehidupan manusia harus dikembangkan lagi dalam situasi belajar.

Melalui metode Riyadhah, SMUTH mencoba merealisasikan tujuan tersebut. Modelling sangat ditekankan dalam proses belajar mengajar. SMUTH memberikan pengalaman langsung yang bersifat ritus-ritus keagamaan seperti salat, pengenalan tasawuf, latihan khusus dalam ma’rifatullah, pembacaan do’a, tadarrus dan pembiasaan lainnya. Metode-metode yang diterapkan ini nampaknya memiliki pengaruh yang positif dan signifikan. Spiritualitas peserta didik nampak sekali dan berimplikasi sosial. Kepekaan mereka terhadap ketimpangan-ketimpangan sosial dibuktikan dengan seringnya mereka berpartisipasi dalam membantu saudara-saudara yang kurang beruntung maupun tertimpa musibah.

Bagi mereka spiritualitas adalah ”cinta”, sehingga tidak ada kecanggungan bagi mereka ketika harus berinteraksi dengan orang yang berlainan keyakinan dengan mereka.

Jargon yang sangat dikenal di SMUTH adalah ”dahulukan akhlak daripada fiqh”. Hal ini menggambarkan bahwa SMUTH lebih mengutamakan kesalehan pribadi dan sosial daripada kesalehan spiritualitas yang eksklusif. Dalam konteks ini SMUTH menerapkan pembelajaran SQ (Spiritual Quotient), yakni pembelajara yang bertumpu pada bagian dalam diri yang berhubungan dengan kearifan di luar ego dan jiwa sadar serta berkaitan dengan pencarian nilai. Pada prisipnya manusia memiliki banyak kecerdasan, tetapi jika tidak dibarengi dengan kecerdasan spiritual, jiwa tidak akan merasakan kebahagiaan.

Pembinaan spiritual di SMUTH dilakukan dengan berbagai metode, sebagai berikut:

Pertama, Tadarus Al Qur’an yang diadakan pada jam pertama (sebelum pelajaran dimulai), paling sedikit tiga ayat. Kegiatan ini disamping untuk membiasakan siswa membaca Al Qur’an, juga dalam rangka membersihkan jiwa dengan bertabarruk (mencari berkah) dari bacaan Al Qur’an. Kedua, menggiatkan salat berjamaah dalam rangka membangun kebersamaan di antara guru dan siswa. Ketiga, membaca suat Yasin dan do’a pada malam Jum’at (minimal sekali dalam sebulan), dimana seluruh guru dan siswa diajibkan hadir. Acara ini juga mengundang masyarakat sekitar sekolah. Keempat, Pengajian Ahad Pagi bersama masyarakat sekitar. Kelima, mengadakan peringatan hari-hari bersar Islam.

Disamping kegiatan-kegiatan yang bersifat ritual sebagaimana disebut di atas, masih terdapat beberapa upaya membangun SQ yang mungkin tidak dijumpai di sekolah-sekolah lain. Beberapa kegiatan dimaksud adalah, (keenam) Spiritual Camp (Camping Ruhaniyah) yang dilakukan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah (Tazkiyatu an-Nafs atau membersihkan jiwa) dengan melakukan dzikir dan ibadah pada waktu malam. Sementara siang harinya pendekatan diri kepada Allah dilakukan dengan melakukan bakti sosial kepada masyarakat, berkhidmat dan memberikan bantuan kepada masyarakat yang kurang mampu. Kegiatan ini biasanya dilakukan di luar kampus, yakni di pedasaan terpencil selama lebih kurang 3 (tiga) hari tiga malam. Kegiatan ini diwajibkan untuk siswa kelas I.

Ketujuh, kegiatan Spiritual Work Camp yang diadakan dalam rangka melatik kepekaan dan kepedulian sosial. Selama lebih kurang satu minggu pesera didik ditempatkan di rumah-rumah penduduk di pedesaan (semacam Kuliah Kerja Nyata) yang diwajibkan untuk siswa kelas II. Pada setiap satu rumah ditempatkan dua orang peserta didik. Mereka mengikuti “irama hidup” tuan rumah, dan harus membantu menyelesaikan pekerjaan. Misalkan si tuan rumah adalah petani, maka para siswa juga harus membantu bertani, demikian pula untuk pekerjaan-pekerjaan lain. Kedelapan, Pesantren Ramadhan yang diisi dengan melaksanakan ibadah-ibadah ritual, kunjungan sosial, sahur on the road (sahur bersama fakir-miskin di jalan) serta sahur di rumah kaum dhu’afa.

Kesembilan, adalah Forum Demokrasi dalam rangka mengembangkan iklim demokratis. Ada sebuah hari yang dinamakan “mimbar demokrasi” yang diadakan sekali dalam sebulan. Dalam forum ini peserta didik diberi kesempatan dan kebebasan untuk melakukan kritik terhadap system pendidikan. Jika terdapat kebijakan-kebijakan pendidikan tentu pihak sekolah melibatkan peserta didik dalam forum musyawarah. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan sikap kritis sekaligus apresiasi dan menghormati  perbedaan  dengan penuh tanggung jawab. Kesepuluh, SMUTH mengembangkan pembelajaran dengan metode Modelling (Uswah) yang diakui merupakan metode paling baik yang pernah diterapkan oleh Rasulullah. Akhlak tidak diajarkan melalui materi pelajaran, namun lebih ditekankan melalui metode uswah.       

    Dalam hal pelanggaran akhlak, SMUTH menerapkan model hukuman yang tetap mengacu pada pembinaan akhlak. Seseorang yang terbukti melakukan pelanggaran akhlak tertentu, hukumannya berupa bakti sosial ke tempat tertentu yang ditunjuk oleh Sekolah. Tempat-tempat yang dituju di sini termasuk tempat ibadah agama lain. Dalam konteks hukuman ini, siswa diminta selama 2 hari membersihkan gereja. Hal ini dalam rangka menumbuh kembangkan sikap toleransi dalam beragama dan saling menghormati, sehingga menghilangkan sikap-sikap truth claim dan fanatisme buta.

  1. Aspek Intelektual

“Belajar berbasis Otak” (Brain Based Learning) merupakan metode yang diterapkan dalam rangka mengembangkan inteluktualitas peserta didik secara optimal. Beberapa teori yang kemudian dikembangkan oleh SMUTH untuk mengoptimalkan potensi intelektual peserta didik yaitu, Quantum Learning (QL), Accelerated Learning (AL), Multiple Intelligence(MI). Pada prinsipnya antara ketiganya terdapat kesamaan. AL lebih menitik beratkan proses belajar mengajar bisa cepat dengan hasil yang optimal, sedangkan MI lebih menaruh perhatian terhadap kecerdasan siswa secara personal.[9] Melalui penerapan Belajar berbasis Otak ini SMUTH ingin menciptakan iklim belajar yang manusiawi dan didasarkan pada cara kerja otak.

Dalam praktiknya, diterapkan slogan Leraning is fun. Semua pendidik maupun peserta didik harus merasakan kenyamanan dalam proses belajar mengajar, sehingga tidak terjadi kekhawatiran dan kecemasan terhadap diri dan lingkungannya. Lingkungan belajar yang nyaman dapat dikelompokkan dalam lingkungan intern, melibatkan zona keamanan individu secara personal dalam pembelajaran. Sedangkan lingkungan ekstern melibatkan penataan lingkungan fisik pembelajaran.

BBL memandang bahwa otak manusia juga mengalami dehidrasi ketika terlalu lama diforsir untuk bekerja. Karenanya diperlukan jeda dan suplai oksigen untuk memulihkannya. SMUTH memperbolehkan setiap peserta didiknya keluar mengambil minum yang disediakan di setiap sudut di luar kelas. Sementara di dalam kelas, untuk menumbuhkan rasa nyaman dan rileks, dipedengarkan musik-musik lembut untuk pengiring pembelajaran. Gambar-gambar, kaligrafi hasil karya siswapun ikut menemani suasana belajar agar lebih bersemangat.

Menurut penuturan beberapa siswa, sistem belajar di SMUTH seperti halnya perkuliahan, dimana guru banyak memberikan tugas yang bersifat eksploratif. Di sini guru juga lebih memposisikan diri sebagai partner belajar.

Apa yang dapat ditarik dalam model pembelajaran ini adalah, SMUTH berupaya semaksimal mungkin mengoptimalkan kerja otak dengan cara yang baik. Otak merupakan organ paling penting dalam belajar. Kesulitan dan kegagalan belajar biasanya terjadi dikarenakan cara kerja otak yang salah. Karenanya, SMUTH menerapkan paradigma  belajar didasarkan pada optimalisasi cara kerja otak.

  1. Aspek Sosial

Sebagaimana telah dikemukakan di muka bahwa SMUTH tidak menerapkan boarding school. Hal ini dalam upaya membangun ikatan sosial yang kuat antara peserta didik dengan lingkungannya. Hal ini didasarkan pada pendapat Carnegie, sebagaiman dikutip oleh Jalaluddin Rahmat, bahwa yang paling menentukan sukses dalam kehidupan itu bukanlah Intellectual Intelligence, namun Social Intelligence. Kecerdasan Sosial ini mencakup beberapa kemampuan seperti; kemampuan memunculkan gagasan, kemampuan berkomunikasi, kemampuan berhubungan dengan orang banyak. Kontribusi Social Intelligence ini bisa mencapai 70% dalam menentukan kesuksesan seseorang, sementara yang 30% adalah kemampuan akademis.[10]

Dengan menempatkan para peserta didik di tengah masyarakat,  diharapkan akan menumbuhkan kecerdasan dan kepekaan sosial. Diharapkan setiap individu dapat merasakan adanya berbagai jalinan sosial dengan masyarakat dan berusaha mengokohkannya, menyadari makna kerja sama, serta ikut andil dalam aktivitas sosial, mau mengabdi untuk kepentingan sosial, menghormati nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat, sehingga setiap perilaku siswa akan selaras dengan norma-norma sosial yang ada di dalam masyarakatnya. Dengan demikian tidak terjadi alienasi sosial siswa dengan masyarakatnya.Untuk tujuan pendidikan sosial, siswa juga dilibatkan di dalam kegiatan masyarakat seperti olah raga, camping.

Dalam kaitan dengan interaksi sosial siswa dengan masyarakat, SMUTH juga menekankan perlunya berinteraksi secara baik dengan komunitas agama lain. Akhlak merupakan tujuan dari pendidikan sosial. Karenanya, SMUTH juga memfasilitasi siswanya dengan menyelanggarakan aktivitas bersama komunitas penganut agama lain. Hal ini dimaksudkan untuk memperkokoh jalinan persaudaraan yang didasarkan pada prinsip saling menghormati demi terciptanya perdamaian. Kegiatan semacam ini juga dimaksudkan sebagai wahana untuk menginternalisasikan nilai-nilai kebaikan yang selama ini sudah ditanamkan oleh semua agama seperti cinta kasih, rendah hati dan peduli kepada sesama.

 

  1. D.    CATATAN AKHIR

Pendidikan bisa dikategorikan sebagai bentuk pendidikan yang berbasis pluralisme, apabila dari segi orientasi (landasan filosofis) pendidikan, komponen kurikulum, metode, sarana prasarana serta evaluasinya mengupayakan terciptanya prinsip-prinsip pluralisme.

Pendidikan pluralisme dalam mendekati dan memahami “objek agama” tentu saja berangkat dari berbagai sudut pandang yang beragam.  Dari sinilah nantinya diharapkan memunculkan pemahaman sosiologis, historis, psikologis, terhadap keberagamaan manusia, untuk mengantarkan peserta didik “memiliki agama” sekaligus dapat “menghargai” agama orang lain.

Berangkat dari pemahaman tersebut SMUTH nampak telah menerapkan model pendidikan berbasis pluralisme. Melalui tujuan, kurikulum, metode dan perangkat pendidikan lainnya. Tampak apresiasi SMUTH terhadap kenyataan yang ada di masyarakat kita yang sangat pluralistik. SMUTH menyadari, dalam rangka menumbuhkan kecintaan, saling menghormati antar sesama penganut agama harus diawali dengan konsep dan pemahaman tentang penerapan pluralisme dalam pendidikan agama. Heterogenitas yang tinggi masyarakat Indonesia sangat rawan dengan konflik yang bermotifkan SARA. Beragam konflik yang terjadi dewasa ini adalah dikarenakan kegagalan memahami dan membangun kesadaran pluralitas, yang ini bisa berawal dari pendidikan agama yang tidak mampu menyemaikan prinsip-prinsip pluralisme.   

Pendidikan Agama harus mampu melakukan transformasi kehidupan beragama itu sendiri dengan melihat sisi Ilahiyah dan sosial budayanya. Pendidikan Agama harus berusaha menjaga kebudayaan suatu masyarakat dan mewariskannya kepada generasi penerus berupa, tata nilai, persahabatan dalam kemajemukan, kesadaran akan unity in diversity,  mengembangkan sikap saling menghormati dan memahami, serta kesediaan berdialog secara terbuka,

Pada akhirnya “mendahulukan akhlak daripada fiqh” merupakan satu pandangan yang patut dikembangkan. Pandangan yang mampu menembus batas atau sekat-sekat primordial, ras, etnis dan agama ini tentu menjadi pilihan sikap dan tindakan dalam kerangka hidup yang pluralistik ini. Wallahu a’lam…

DAFTAR PUSTAKA

 

Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim PendidikanIslam, (Jakarta: Logoss Wacana Ilmu, 1999).

Alex R. Rodger, Education and Faith in Open Society, (Britain: The Handel Press, 1982).

Djamaluddin Malik, Studi Pemikiran Cendekiawan Muslim Indonesia,  (Bandung: Fak. Pasca Sarjana UNPAD, 1992).

H.A.R. Tilaar, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional, (Jakarta: Logoss, 2000).

Jalaluddin Rahmat, Belajar Caerdas: Belajar Berbasis Otak, (Bandung: Mizan, 2005).

John Sealy, Religious Education:  Philosiphical Perspective,  (London: George Allen & Unwin, 1986). 

Machasin, Pluralisme dalam Islam, dalam Pergulatan Pesantren dan Demokrasi, (Yogyakarta: Tiara Wacana).

M. Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999).

M. Arkoun, Islam Kontemporer: Menuju Dialog antar Agama, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar: 2001).

 


[1] Machasin, Pluralisme dalam Islam, dalam Pergulatan Pesantren dan Demokrasi, (Yogyakarta: Tiara Wacana), hlm. 187.

[2] M. Amin Abdullah, Studi Agama: Normativitas atau Historisitas, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1999), hlm 73.

[3] John Sealy, Religious Education:  Philosiphical Perspective,  (London: George Allen & Unwin, 1986), hlm. 43-44 

[4] H.A.R. Tilaar, Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional, (Jakarta: Logoss, 2000), hlm. 5.

[5] M. Amin Abdullah, Op. Cit., hlm. 14.

[6] SMU Plus Muthahhari secara resmi berdiri pada tanggal 1 Juli 1992. Lembaga pendidikan ini berada di bawah Yayasan Muthahhari untuk Pencerahan Pemikiran Islam. Didirikan berdasarkan akta nnotaris No. 16 tanggal 3 Oktober 1988 di Bandung. Pendirinya adalah Jalaluddin Rahmat, yang termasuk salah seorang intelektual Islam terkemuka yang sangat mengagumi soerang pemikir Syi’ah, Muthahhari.

[7] Djamaluddin Malik, Studi Pemikiran Cendekiawan Muslim Indonesia,  (Bandung: Fak. Pasca Sarjana UNPAD, 1992), hlm. 113-114.

[8] Alex R. Rodger, Education and Faith in Open Society, (Britain: The Handel Press, 1982), hlm. 61-62.

[9] Jalaluddin Rahmat, Belajar Cerdas: Belajar Berbasis Otak, (Bandung: Mizan, 2005), hlm. 5.

[10] Jalaluddin Rahmat, Op. Cit., hlm. 76.

Tentang abdulwahidilyas

abdul wahid, staf pengajar di Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, beralamat di Jl. Candi Prambanan VI/1444 Kalipancur Semarang
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s