Multiple Intelligence dan PAI

 PSIKOLOGI DAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

(Urgensi IQ, EQ dan SQ dalam Pembelajaran PAI)

 

Sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan di sekolah, Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan mata pelajaran lainnya. Tujuan yang dirumuskan “harus” mampu menjangkau ketika ranah; kognitif, afektif dan psikomotor dengan sempurna, agar tujuan pembentukan insan kamil bisa terwujud. Dengan kata lain; pengajaran PAI harus mencakup tiga hal yakni; transfer of knowledge, transfer of value dan transfer of skills/attitude. Hal ini diasumsikan bahwa, peserta didik mampu menyerap ilmu pengetahuan dari guru, meniru dan menyerap nilai, sikap dan ketrampilan dari proses interaksi dengan guru. Namun demikian, di lapangan ketiga hal tersebut tidak selalu bisa berjalan beriringan. Pemahaman yang baik terhadap IQ, EQ dan SQ diharapkan mampu menjembatani kelemahan-kelemahan dari aspek psikologis, atas pengajaran PAI. Sekaligus, dengan memanfaatkan jasa ketiganya, dapat memperkaya strategi pendekatan dan metode pengajaran PAI terhadap peserta didiknya secara lebih akurat dan bermakna.

 

 

APA ITU IQ, EQ DAN SQ?

Dalam Multiple Intelligences, Howard Gardner dari Harvard menyatakan bahwa sedikitnya ada tujuh macam kecerdasan, termasuk kecerdasan musical, interaksi, olahraga, rasional dan emosional. Sementara Danah Zohar dan Ian Marshal menyatakan bahwa semua kecerdasan, yang jumlahnya mungkin tak terbatas, dapat dihubungkan dengan salah satu dari ketiga system saraf dasar yang terdapat dalam otak. Bahkan semua jenis kecerdasan yang disebutkan Gardner pada hakekatnya adalah varian dari ketiga kecerdasan utama; IQ, EQ dan SQ serta pengaturan saraf ketiganya.[1]

Orang mulai perlu untuk mengetahui secara lebih mendalam dan jelas, terutama kaitannya dengan kecerdasan rasional atau Intelligence Quotient (selanjutnya disebut IQ) yang selama ini kita kenal. Pada umumnya pengetahuan tentang IQ ini sudah cukup karena memang sudah dipelajari orang selama seratus tahun, dan selama ini pula orang percaya tentang kekuatan IQ sebagai penentu keberhasilan seseorang dalam kehidupannya.  Berawal dari tahun 1890, ketika Binet melakukan eksperimen-eksperimen laboratorium, tes IQ terus diuji ulang dan disempurnakan dengan berbagai modelnya hingga kurang lebih tahun 1960-an.[2] Hasil pengukuran IQ hingga saat ini masih dipercaya dan digunakan untuk berbagai keperluan peramalan keberhasilan akademik dan karir. Sampai pada kurang lebih dua dasa warsa terakhir ini, ketika Howard Gardner mengemukakan adanya intelegensi lain, yang disebut sebagai kecerdasan emosional, orang pun terbuka wawasannya.[3]

Kecerdasan emosional merupakan suatu konsep baru yang sekarang banyak diminati dan dipelajari masyarakat, baik kalangan pendidikan, orang awam, terutama para wiraswastawan (enterpreunership), karena peran kecerdasan emosi atau emotional intelligence (selanjutnya disebut EQ) ini sangat besar sumbangannya dalam mencapai keberhasilan.

Berdasarkan pengamatan dan kejadian dalam masyarakat mengisyaratkan bahwa kecerdasan emosional (EQ) dapat sama ampuhnya, bahkan terkadang lebih ampuh daripada IQ. Serangkaian studi menunjukkan bahwa orang yang secara intelektual cerdas seringkali bukanlah orang yang paling berhasil dalam pekerjaannya maupun dalam kehidupan pribadinya. Ternyata IQ yang tinggi tidak selalu menjamin kesejahteraan atau kebahagiaan hidup.[4]

Hal lain dari penemuan dan penelitian baru ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosional bukanlah merupakan bawaan sejak lahir, sehingga dapat dipupuk dan diperkuat dalam diri kita semua. Dalam hal ini peran orang tua dan sekolah sangat besar dalam memupuk dan memberikan kesempatan emas kepada anak-anak untuk mengembangkan yang satu ini.[5]

Bagi orang dewasa pun kecerdasan emosional ini dapat dikembangkan melalui berbagai pelatihan dan tambahan pengetahuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sosialnya. Sebagai pengelola atau perannya sebagai manajer suatu organisasi, perlu mengetahui secara mendalam tentang manfaat pengelolaan emosi kita dalam hubungan dengan orang-orang di sekitar kita. Lebih dari itu, penting bagi kita yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, sebelum membimbing anak-anak didik kita, perlu memahami benar makna dan peran kecerdasan emosional ini.

IQ, EQ, baik terpisah ataupun bersama-sama, tidaklah cukup untuk menjelaskan keseluruhan kompleksitas kecerdasan manusia dan jiwa serta imajinasinya. Komputer memiliki IQ tinggi; mereka mengetahui aturan dan mengikutinya tanpa salah. Banyak hewan memiliki EQ tinggi; mereka mengenali situasi yang ditempatinya dan mengetahui cara menanggapi situasi tersebut dengan tepat. Akan tetapi, baik komputer maupun hewan tidak pernah bertanya mengapa kita memiliki aturan atau situasi, atau bisakah aturan atau situasi itu diubah atau diperbaiki. Artinya, mereka bekerja di dalam batasan, memainkan “permainan terbatas”. Spiritual Quotient (SQ) memungkinkan manusia menjadi kreatif, mengubah aturan atau situasi. SQ memungkinkan kita untuk bermain dengan batasan, memainkan “permainan tak terbatas”. SQ memberi kita kemampuan membedakan. SQ memberi kita rasa moral, kemampuan menyesuaikan aturan yang kaku dibarengi dengan pemahaman dan cinta serta kemampuan setara untuk melihat kapan cinta dan pemahaman sampai pada batasannya. SQ digunakan untuk bergulat dengan ihwal baik dan jahat, serta untuk membayangkan kemungkinan yang belum terwujud, untuk bermimpi, bercita-cita, dan mengangkat diri kita dari kerendahan.[6]

Perbedaan penting antara SQ dan EQ terletak pada daya ubahnya. Sebagaiman dijelaskan oleh Daniel Goleman, Emotional Intelligence memungkinkan seseorang untuk memutuskan dalam situasi apa dia berada, lalu bersikap secara tepat di dalamnya. Ini berarti bekerja di dalam batasan situasi dan membiarkan situasi tersebut mengarahkan seseorang. Akan tetapi, SQ memungkinkan seseorang bertanya apakah ia memang berada dalam situasi tersebut. Apakah seseorang lebih suka mengubah situasi tersebut, atau memperbaikinya? Ini berarti bekerja dengan batasan situasi yang memungkinkan seseorang untuk mengarahkan situasi itu.

Idealnya ketiga kecerdasan tersebut bekerja sama dan saling mendukung. Otak kita dirancang oleh Yang Kuasa, agar mampu melakukan hal ini. Meskipun demikian IQ, EQ san SQ memiliki kekuatan tersendiri dan bias berfungsi  secara terpisah. Oleh karena itu ketiga tingkat kecerdasan kita belum tentu sama-sama tinggi atau rendah. Seseorang tidak harus tinggi dalam IQ atau SQ agar tinggi dalam EQ, karena seseorang mungkin tinggi IQ-nya, tapi rendah EQ dan SQ-nya

PROBLEMATIKA PENGAJARAN PAI

Dewasa ini banyak muncul keprihatinan, bahwa PAI hanya berhasil pada dataran kognitif saja. Banyak siswa yang prestasinya tinggi, namun sikap, akhlak serta pengamalan ibadahnya sangat jauh dari harapan. Inilah yang menjadi pertanyaan besar sejauhmana efektifitas pengajaran PAI saat ini.

Sebagai salah satu mata pelajaran yang diberikan di sekolah, Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan mata pelajaran lainnya. Tujuan yang dirumuskan “harus” mampu menjangkau ketika ranah; kognitif, afektif dan psikomotor dengan sempurna, agar tujuan pembentukan insan kamil bisa terwujud. Dengan kata lain; pengajaran PAI harus mencakup tiga hal yakni; transfer of knowledge, transfer of value dan transfer of skills/attitude. Hal ini diasumsikan bahwa, peserta didik mampu menyerap ilmu pengetahuan dari guru, meniru dan menyerap nilai, sikap dan ketrampilan dari proses interaksi dengan guru. Namun demikian, di lapangan ketiga hal tersebut tidak selalu bisa berjalan beriringan.

Dalam konteks ini, seorang Guru PAI yang lebih merupakan figure sekaligus model harus piawai dalam melakukan pendekatan dan menerapkan metode pengajaran PAI terhadap peserta didiknya. Hal ini dikarenakan figure Guru PAI berbeda dengan guru mata pelajaran lain. Barangkali tidak demikian halnya dengan guru mata pelajaran umum, kesalahan atau kekhilafan kecil yang dilakukan oleh Guru PAI akan membawa dampak yang besar di kalangan peserta didiknya.

Dengan demikian, pemahaman yang baik terhadap IQ, EQ dan SQ ini diharapkan mampu menjembatani kelemahan-kelemahan dari aspek psikologis, atas pengajaran PAI. Sekaligus, dengan memanfaatkan jasa ketiganya, dapat memperkaya strategi pendekatan dan metode pengajaran PAI terhadap peserta didiknya secara lebih akurat.

IQ, EQ DAN SQ DALAM PEMBELAJARAN PAI

IQ (kecerdasan rasional) dan EQ (kecerdasan emosional) bukanlah kemampuan yang bertentangan, melainkan kemampuan yang sedikit terpisah. Kita seringkali mencampurkan ketajaman akal dengan ketajaman emosi; misalnya mengatakan orang yang IQ-nya tinggi tetapi Kecerdasan Emosional (EQ-nya) rendah; atau IQ rendah dengan EQ tinggi, sebenarnya relatif jarang terjadi.[7]

Pengukuran IQ yang pada mulanya diyakini menjadi penentu keberhasilan seseorang di bidang akademik dan kehidupan, sekarang selama dua dasa warsa ini mendapat kritik, antara lain :

1.   Bahwa tes intelegensi yang disusun tersebut hanya menguji kemampuan tertentu, yaitu logika, tetapi tidak menguji semua kemampuan; padahal logika hanyalah salah satu bentuk pikiran atau kemampuan berpikir. Tes intelegensi yang ada menganut konsep bahwa kecerdasan itu merupakan suatu kesatuan yang tunggal dan konsisten sejak lahir.

Bahwa tes intelegensi yang ada pada saat itu terlalu menggambarkan kemampuan sekolah, suasana perkotaan, sehingga kurang dapat digunakan untuk  anak-anak di daerah pedesaan.

  1. IQ hanya menjadi ramalan sukses di kelas, atau sebagai sarjana.
  2. Skor IQ dianggap tidak mampu berbicara banyak tentang keberhasilan anak di sekolah maupun dalam kehidupan mereka. Banyak anak yang memperoleh skor tinggi dalam Tes Intelegensi tradisional, memiliki kemampuan analitik yang tinggi, mereka tidak mampu menyelesaikan masalah sehari-hari yang praktis, kurang memiliki pemikiran kreatif dan mendalam.[8]

 

Beberapa kelemahan inilah yang nampaknya bias dipandang sebagai pangkal tolak tidak terjadinya sinkronisasi antara prestasi akademik dengan prestasi akhlak dan ibadah siswa.

Sebelum membangun kaitan antara IQ dengan EQ, maka perlu ada kejelasan tentang apa itu EQ. Kecerdasan Emosional (EQ) memiliki lima unsur yaitu kesadaran diri (self-awareness), pengaturan diri (self-regulation), motivasi (motivation), empati (empathy) dan ketrampilan sosial (social skill).

  1. Kesadaran diri (Self-awareness): mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat, dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat. Self-awareness meliputi kemampuan :
    1. Kesadaran emosi (emotional awareness): yakni mengenali emosi diri sendiri dan efeknya,
    2. Penilaian diri secara teliti (accurate self-assessment); mengetahui kekuatan dan batas-batas diri sendiri,
    3. Percaya diri (self-confidence): keyakinan tentang harga diri dan kemampuan sendiri.
    4. Pengaturan diri (self regulation): menangani emosi kita sedemikian rupa sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati dan sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, mampu segera pulih dari tekanan emosi. Pengaturan diri meliputi kemampuan :
      1. Mengendalikan diri (self-control): mengelola emosi dan desakan hati yang merusak,
      2. Sifat dapat dipercaya (trustworthiness): memelihara norma kejujuran dan integritas,
      3. Kehati-hatian (conciousness): bertanggung jawab atas kinerja pribadi,
      4. Adaptabilitas (adaptability): keluwesan dalam menghadapi perubahan,
      5. Inovasi (innovation): mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan, dan informasi-informasi baru.
    5. Motivasi (motivation): menggunakan hasrat kita yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif, serta untuk bertahan untuk menghadapi kegagalan dan frustasi. Kecenderungan emosi yang mengantar atau memudahkan pencapaian sasaran meliputi :
      1. Dorongan prestasi (Achievement drive): yaitu dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan,
      2. Komitmen (commitment): yaitu kemampuan menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau lembaga,
      3. Inisiatif (initiative): yaitu kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan,
      4. Optimisme (optimism): yaitu kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan kegagalan.
    6. Empati (empathy): merasakan yang dirasakan orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan orang lain. Empati merupakan kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan dan kepentingan orang lain. Kemampuan ini meliputi kemampuan :
      1. Memahami orang lain (understanding others): yaitu mengindera perasaan dan perspektif orang dan menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan mereka,
      2. Mengembangkan orang lain (developing others): yaitu merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan berusaha menumbuhkan kemampuan mereka,
      3. Orietasi pelayanan (service orientation): yaitu kemampuan mengantisipasi, mengenali dan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain,
      4. Memanfaatkan keragaman (leveraging diversity): yaitu kemampuan menumbuhkan peluang  melalui pergaulan dengan orang lain,
      5. Kesadaran politis (political awareness): yaitu mampu membaca arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.
    7. Ketrampilan sosial (social skill): menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan dengan cermat membaca situasi dan jaringan sosial. Dalam berinteraksi dengan orang lain ketrampilan ini dapat dipergunakan untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah, dan menyelesaikan perselisihan, serta untuk bekerja sama dan bekerja dalam tim. Kepintaran dalam menggugah tanggapan yang dikehendaki pada orang lain meliputi :
      1. Pengaruh (influence): yaitu melakukan taktik untuk melakukan persuasi,
      2. Komunikasi (communication): yaitu mengirim pesan yang jelas dan meyakinkan,
      3. Manajemen konflik (conflict management): meliputi kemampuan melakukan negosiasi dan pemecahan silang pendapat,
      4. Kepemimpinan (leadership): yaitu membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok dan orang lain,
      5. Katalisator perubahan (change catalyst): kemampuan memulai dan mengelola perubahan,
      6. Membangun hubungan (building bonds): kemampuan menumbuhkan hubungan yang bermanfaat,
      7. Kolaborasi dan kooperasi (collaboration and cooperation): kemampuan bekerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama,
      8. Kemampuan tim (team capability): yaitu menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan bersama.[9]

Masalahnya adalah bahwa dengan perkembangan zaman dan kehidupan yang berbeda di dunia akademik, diperlukan pandangan kecerdasan yang lebih luas. Pengalaman dan berbagai studi menunjukkan bahwa keberhasilan seseorang dalam hidup ternyata tidak semata-mata ditentukan oleh IQ-nya. Ternyata masih ada faktor lain yang berperan dalam kesuksesan yaitu kecerdasan emosional (EQ). Satu hal lagi yang tak kalah pentingnya adalah SQ. Kecerdasan Spritual adalah kecerdasan jiwa yang dapat membantu kita menyembuhkan dan membangun diri secara utuh. Ia berada di bagian diri yang dalam, berhubungan dengan kearifan di luar ego atau pikiran sadar. SQ adalah sebuah kesadaran yang dengannya seseorang tidak hanya mengakui nilai-nilai yang ada, tetapi secara kreatif mampu menemukan nilai-nilai baru. SQ tidak bergantung pada budaya maupun nilai, serta tidak mengikuti nilai-nilai yang ada, tetapi menciptakan kemungkinan untuk memiliki nilai-nilai itu sendiri.[10]

Konteks permasalahan di sini adalah bagaimana mengupayakan guru PAI menjadi kreatif di dalam mengajarkan materi. Paparan serta kiat-kiat teknis mengenai IQ, EQ dan SQ, sebagaimana dipaparkan di muka, kiranya dapat menjadi alternatif pendekatan dan metode pengajaran yang mampu menyentuh seluruh ranah; kognitif, afektif dan psikomotor. Dengan kata-lain, ini merupakan sebuah upaya untuk menjadikan Pendidikan Agama Islam menjadi sebuah kesadaran yang utuh, lebih bermakna dalam realitas kehidupan siswa, dan bukan sekedar doktrin yang membelenggu.

REFERENSI

 

Armstrong, Thomas, Multiple Intelligence in the Classroom, Association for Supervision and Curriculum Development, Aleksandria, Virginia, 1994-96.

Cooper, Robert Ph. D, Kecerdasan dalam Kepemimpinan dan Organisasi, PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000.

DePorter, B. & Hernacki M., Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, Terjemahan, Kaifa Bandung, 1992.

Fauzia, Aswin H, Prof, Dr, Peranan IQ dan EQ bagi Keberhasilan Studi dan Hidup Seseorang, suatu Tinjauan Psikologis, Gramedia, Jakarta, 2000.

Goleman, Daniel, Kecerdasan Emosional, Mengapa EI Lebih Penting daripada IQ, Gramedia, Jakarta, 1999.

Gordon, Deyden, Revolusi Cara Belajar, Bandung: Mizan Media Utama, 1999.

Mustaqim, Drs. H., Psikologi Pendidikan, Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo-Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001.

Zohar, Danah, Ian Marshall, SQ Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, Bandung: Mizan, 2001.


[1] Danah Zohar, Ian Marshall, Spiritual Quotient, (Bandung: Mizan, 2001), hlm. 4

[2] Mustaqim, Psikologi Pendidikan, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm. 109-115.

[3] Robert Cooper, Ph.D, Kecerdasan dalam Kepemimpinan dan Organisasi, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000), hlm. 5.

[4] Daiel Goleman, Kecerdasan Emosional, Mengapa EI Lebih Penting daripada IQ,(Jakarta: Gramedia, 1999), hlm. 45.

[5] Ibid., hlm. 47.

[6] Danah Zohar, Op. Cit., hlm. 4-5.

[7] Dreyden Gordon, Revolusi Cara Belajar, (Bandung: Mizan Media Utama, 1999), hlm.14.

[8] Fauzia, Aswin H, Prof, Dr, Peranan IQ dan EQ bagi Keberhasilan Studi dan Hidup Seseorang, suatu Tinjauan Psikologis,(Jakarta: Gramedia, 2000), hlm. 56-58.

[9] Mustaqim, Op. Cit., hlm. 154-157.

[10] Danah Zohar, Op. Cit., hlm. 8-9.

Tentang abdulwahidilyas

abdul wahid, staf pengajar di Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, beralamat di Jl. Candi Prambanan VI/1444 Kalipancur Semarang
Pos ini dipublikasikan di Perkuliahan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s