Menakar nurani

Di saat kompetisi ekonomi kian ketat, bahkan cenderung kejam, kita disadarkan akan makna kesejahteraan yang sesungguhnya. Secara tidak disadari, kita digiring, dijebak bahkan dijajah oleh kapitalisme yang kita ciptakan sendiri. Kerakusan demi kerakusan telah menafikan hakikat kemanusiaan kita, baik sebagai hamba Allah maupun sebagai mahluk sosial dan warga kampung dunia. Sudahkah kita sadar betapa tangan kita sudah lama tergenggam erat tanpa mau berjabat erat, atau mengulurkannya kepada saudara kita tercinta. Saudaraku … di jaman yang semakin menggila ini paradigma kesejahteraan bersama yang merata dan berkeadilan harus sama-sama kita kibarkan. Kebersamaan adalah harga yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, dan satu lagi … kepedulian jangan lagi menjadi komoditas yang langka di sekeliling kita. Bukan kompetitor, lawan atau musuh … tetapi mereka adalah kolega, kawan dan sahabat terbaik kita. Bukan lagi konsumen … tetapi mereka adalah mitra, saudara dekat kita. Tidak lagi ketawa bangga kita, di depan kompetitor yang terpuruk, melainkan tangis dan uluran tangan penuh kedamaian. Bukan lagi kebahagiaan dengan menguasai, tetapi keceriaan dalam berbagi. Semoga Allah SWT ridha kepada hambaNya, wallahu a’lam

Tentang abdulwahidilyas

abdul wahid, staf pengajar di Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, beralamat di Jl. Candi Prambanan VI/1444 Kalipancur Semarang
Pos ini dipublikasikan di character building. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s