DAP

Developmentally Appropriate Practice 

Mengisi “Ruang Kosong” Pembelajaran PAI untuk Anak Usia Dini

Banyak upaya dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Namun demikian, focus perbaikan lebih banyak ditujukan pada wilayah yang bersifat metodologis dan strategi pembelajaran. Kenyataan inilah yang menjadikan munculnya “ruang kosong” yang tidak terperhatikan oleh para pendidik. Perbaikan pembelajaran yang hanya menekankan aspek metodologis maupun strategi pembelajaran tanpa diikuti pemberian perlakuan psikologis, dimana anak diperlakukan secara patut dan utuh tentu akan menjadi kelemahan dalam proses pembelajaran. Bagaimanakah menyajikan materi Pendidikan Agama Islam kepada anak usia dini secara lebih bermakna? Apakah PAI menjadi pelajaran yang menjenuhkan atau bahkan menjadi “momok” bagi anak di usia dini? Pendekatan DAP merupakan sebuah tuntutan yang menawarkan praktek pendidikan dengan pendekatan yang patut, menyenangkan, sesuai dengan tingkat perkembangan, karakteristik dan minat anak serta daya dukung lingkungannya. Pendekatan ini memungkinkan pembelajaran PAI bagi anak usia dini menjadi lebih bermakna.

 

 

  1. A.    PENDAHULUAN  

Dalam perspektif Islam, anak merupakan amanah dari Allah Swt. Karenanya, setiap orang tua memiliki kewajiban untuk mendidik anaknya agar kelak menjadi insan yang saleh, berilmu dan bertakwa. Hal ini merupakan wujud pertanggung jawaban orangtua kepada al-Khaliq.[1]

Pada usia ini anak berada dalam tahap pre-operasional. Respon anak terhadap segala sesuatu sangat tergantung pada proses pengamatan dan pemahaman mereka terhadap objek nyata. Dalam tahap ini, materi Pendidikan Agama (Islam) akan cukup mengalami kendala jika praktek pembelajaran yang disajikan kurang sesuai dengan tingkat perkembangan, minat, karakteristik maupun daya dukung/konteks lingkungan sosial-budaya dimana si anak berada. Tak jarang Pendidikan Agama justru menjadi “momok” bagi anak karena banyak hal yang menakutkan, misalnya siksa kubur, siksa neraka dan sebagainya. Bisa juga praktek pembelajaran Agama menjadi sesuatu yang membosankan, membuat anak stress karena banyaknya pengulangan-pengulangan materi maupun hafalan yang tidak didukung dengan praktek pembelajaran yang patut dan menyenangkan. Jika hal ini terjadi pada anak usia dini, maka akan sangat berpengaruh terhadap proses tumbuh kembang anak serta kemauan belajar alamiah anak.

Menurut Peter Klein, sejak lahir manusia dianugerahi dengan 2 insting, yaitu insting untuk menyedot air susu ibu (sucking instinct) dan insting belajar. Insting belajar pada tiap anak dapat dilihat dari cepatnya seorang anak dalam menyerap bahasa dan mengenal situasi di sekelilingnya. Secara naluriah, anak kecil selalu tertarik dan selalu ingin tahu segala sesuatu yang ia jumpai di sekitarnya. Ia belajar melalui eksplorasi dengan melibatkan seluruh aspek inderanya seperti: melihat, mendengar, mencium, meraba, mencicipi, merasakan, berbicara dan aktivitas lainnya. Pertanyaan yang muncul adalah, mengapa insting atau kecintaan untuk belajar ini seringkali berkurang drastis bahkan hilang dalam kehidupan anak, ketika ia masuk sekolah atau bahkan setelah ia dewasa?

Klein menyatakan pula bahwa penyebab hilangnya insting belajar pada anak adalah sikap para orangtua dan guru yang keliru dalam mendidik atau memperlakukan anak, serta sistem pembelajaran di sekolah yang tidak merangsang minat belajar anak. Cara-cara belajar yang diterapkan oleh orangtua maupun guru, baik di rumah maupun di sekolah, seringkali sangat terstruktur dan dipaksakan. Anak lebih banyak pasif,  pembelajaran tidak memberikan kesempatan kepada anak untuk bereksplorasi dan melibatkan dirinya secara total dalam menyerap dan mengolah informasi yang mereka peroleh dalam pikiran mereka. Praktek pendidikan terstruktur dan dipaksakan ini masih sering dijumpai pada sistem pendidikan anak usia dini (di bawah 9 tahun). Cara semacam ini menyebabkan pembelajaran yang dilalui oleh anak menjadi sangat tidak menyenangkan, sehingga pada gilirannya menjadikan anak tidak gemar belajar.[2]

Konsep DAP ini telah menjadi isu besar sejak lebih dari 20 tahun yang lalu. Pada awal tahun 1980-an mulai muncul berbagai kritikan terhadap kurikulum lama yang dianggap telah mematikan semangat dan kecintaan anak untuk belajar, terutama oleh para pakar yang terhimpun dalam organisasi NAEYC (National Association for the Education of Yaung Children). Organisasi ini pada akhirnya merumuskan sebuah petisi untuk mereformasi pendidikan agar sesuai dengan konsep DAP. Gerakan ini dimotori oleh Sue Bredekamp.

Implementasi konsep DAP dalam pendidikan anak usia dini memungkinkan para pendidik untuk dapat memperlakukan mereka sebagai individu yang utuh (the whole child), dengan melibatkan 4 komponen dasar yang ada pada diri anak, meliputi: pengetahuan (knowledge), ketrampilan (skills), sifat alamiah (dispositions), dan perasaan (feelings). (Katz, 1988) Mengapa implementasi DAP demikian penting? Banyak upaya dilakukan untuk memperbaiki pembelajaran di kelas. Namun demikian, focus perbaikan lebih banyak ditujukan pada wilayah yang bersifat metodologis dan strategi pembelajaran. Kenyataan inilah yang menjadikan munculnya “ruang kosong” yang tidak terperhatikan oleh para pendidik. Perbaikan pembelajaran yang hanya menekankan aspek metodologis maupun strategi pembelajaran tanpa diikuti pemberian perlakuan psikologis, dimana anak diperlakukan secara patut dan utuh tentu akan menjadi kelemahan dalam proses pembelajaran. Jika ini terjadi maka pembelajaran akan “kering”, masih terdapat jurang pemisah antara guru dengan siswa, yang berakibat pada munculnya jiwa inferior dalam diri anak, yang pada gilirannya akan menghambat tumbuh kembang anak di masa mendatang.

Pendidikan Agama merupakan merupakan elemen penting dalam kurikulum sekolah. Pendidikan agama akan memberikan pondasi awal bagi keseimbangan tumbuh kembang anak (psiko-fisik). Namun demikian, sifat Pendidikan Agama yang masih sangat normative bagi anak usia dini, seringkali menjadi kesulitan tersendiri bagi guru untuk melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

      Bagaimanakah menyajikan materi Pendidikan Agama Islam kepada anak usia dini secara lebih bermakna? Apakah PAI menjadi pelajaran yang menjenuhkan atau bahkan menjadi “momok” bagi anak di usia dini? Pendekatan DAP merupakan sebuah tuntutan yang menawarkan praktek pendidikan dengan pendekatan yang patut, menyenangkan, sesuai dengan tingkat perkembangan, karakteristik dan minat anak serta daya dukung lingkungannya. Pendekatan ini memungkinkan pembelajaran PAI bagi anak usia dini menjadi lebih bermakna. Artinya, orientasi yang dituju tidak hanya berhenti pada aspek penanaman pengetahuan (kognitif) semata, namun juga akan mampu menanamkan nilai-nilai serta ketrampilan secara utuh.

  1. B.     KONSEP Developmentally Appropriate Practice

 

Terjemahan bebas dari Developmentally Appropriate Practice (DAP) dalam bahasa Indonesia adalah “pendidikan yang patut dan menyenangkan”. Tiga dimensi dalam konsep DAP adalah, (1) Patut menurut umur, maksudnya sesuai dengan tahap-tahap perkembangan anak, (2) Patut menurut lingkungan sosial budaya, yaitu sesuai dengan pengalaman belajar yang bermakna, relevan dan sesuai dengan kondisi sosial budaya, dan (3) Patut secara individual, yaitu sesuai dengan pertumbuhan dan karakteristik anak, kelebihannya, ketertarikannya dan pengalaman-pengalamannya.[3]  

Patut menurut Umur
Patut secara Sosial & Budaya
Patut secara Individual

 

Gambar 1: Tiga Dimensi DAP yang saling terkait

Menurut Bredekamp & Rosegrant (1992) sebagaimana dikutip oleh Rebecca Novick dalam papernya Developmentally Appropriate and Culturally Responsive Education:Theory in Practice, menyatakan,

Developmentally appropriately practices reflect an interactive, constructivist view of learning (Bredekamp, 1987; Bredekamp & Rosegrant, 1992). Key to this approach is the principle that the child constructs his or her own knowledge through interactions with the social and physical environment. Because the child is viewed as intrinsically motivated and self-directed, effective teaching capitalizes on the child’s motivation to explore, experiment, and to make sense of his or her experience.[4]

DAP mencerminkan suatu pembelajaran yang interaktif dan berpandangan konstruktivisme. Kunci dari pendekatan ini adalah prinsip bahwa anak pada dasarnya membangun/mengkonstruk sendiri pengetahuannya melalui interaksi dengan lingkungan sosial dan fisik mereka. Dalam pendekatan ini diupayakan agar anak dapat memotivasi dan mengarahkan  diri secara intrinsik, pembelajaran yang efektif yang mampu membangkitkan keingintahuan mereka melalui kegiatan eksplorasi, eksperimen dan dalam pengalaman nyata.

Terdapat benang merah antara Pendidikan Agama dengan prinsip-prinsip DAP ini. Dalam konsep Multiple Intelligence telah dikenal Spiritual Smart atau Spiritual Quotient (Kecerdasan Spiritual). Dalam interaksi sosialnya, seorang iindividu akan senantiasa berpikir tentang makna hidup, dan akan mempertanyakan  “kenapa kita hidup”, “mengapa kita mati”. Dalam diri seorang individu pula terdapat sifat alamiah, jika melakukan suatu kesalahan, maka ia akan gelisah. Berangkat dari kenyatan itulah pendekatan DAP ini diperlukan dalam rangka mengoptimalkan pembelajaran PAI agar lebih patut, sesuai tingkat perkembangan, sesuai karakteristik dan kebutuhan anak serta sesuai dengan konteks lingkungan sosial-budaya anak.

Anak usia dini memiliki karakteristik yang unik. Ia bukanlah makhluk dewasa dalam ukuran mini. Karenanya perlakuan terhadap anak haruslah berbeda. Secara umum karakteristik anak usia dini adalah; suka meniru, ingin mencoba, spontan, riang, suka bermain, serba ingin tahu, suka bertanya, jujur dan polos, banyak bergerak, ke-aku-annya tinggi.

Berdasarkan karakteristik tersebut, agaknya para ahli sepakat bahwa bermain merupakan bagian terpenting dalam kehidupan anak. Dalam aktivitas bermain ini anak secara tidak langsung mempelajari banyak hal yang konkrit, sehingga tumbuhlah daya cipta, kreatifitas dan imajinasinya.

Menurut Vogotsky sebagaimana dikutip oleh Ratna Megawangi, bermain dan aktifitas yang bersifat konkrit dapat memberikan momentum alami bagi anak untuk belajar sesuatu yang sesuai dengan tahap perkembangan umurnya (age-appropriate), dan kebutuhan spesifik anak (individual needs) Bermain adalah cara yang paling efektif untuk untuk mematangkan perkembangan anak pada usia pra-sekolah (Pre-operational thinking), dan pada masa sekolah dasar (concrete operational thinking).[5]

 

Karakteristik di atas semestinya mendapatkan layanan yang optimal. Namun seringkali dikarenakan keadaan dan kondisi lingkungan, khususnya orangtua yang kurang memadai, maka akan berdampak kurang baik terhadap tumbuh kembang anak. Jika hal ini terjadi, maka akan timbul dampak kejiwaan terhadap anak seperti; pemurung, kurang kreatif, pendiam, apatis, mudah putus asa dan sebagainya. Efek selanjutnya, anak tidak memiliki kepribadian yang utuh.[6]

Banyak konsep, gagasan yang selanjutnya ditindak lanjuti melalui pendidikan, pelatihan serta pengembangan strategi pembelajaran dilakukan dalam upaya mengoptimalkan pembelajaran. Namun menurut hemat penulis, kebanyakan masih ditumpukan kepada aspek metodologis, dan masih melupakan aspek psikologis. Akhirnya yang terjadi pembelajaran masih berjalan kering dikarenakan masih terdapat jarak atau jurang pemisah antara guru dengan siswa. Guru masih menjadi sosok yang cukup menakutkan bagi anak didiknya. Harga diri, ketertiban, otoritas seringkali masih dijadikan tameng bagi guru untuk membangun citra diri. Tentu hal ini semakin menciptakan kondisi yang kian tidak kondusif dalam konteks hubungan guru-anak didik.

Seorang tokoh pendidikan, penggagas pendidikan alternatif A.S. Neill meyakini bahwa, reformasi paling penting yang harus dilakukan terhadap sekolah adalah menghapus jurang pemisah yang melanggengkan paternalisme antara anak-anak dan guru-guru. Otoritas diktator semacam ini akan membuat anak merasa inferior sepanjang hidup mereka; dan setelah dewasa kelak (jika merekapun menjadi pendidik), mereka akan menyalin otoritas guru dengan otoritas bos.[7]  

Upaya memberikan pelayanan dalam rangka memfasilitasi dan mengoptimalkan proses tumbuh kembang anak dapat dicapai melalui penerapan konsep DAP.

Mengapa konsep DAP begitu penting bagi proses belajar anak? Pada dasarnya manusia mempunyai kemampuan alami untuk belajar, asalkan tidak bertentangan dengan prinsip kerja struktur dan fungsi otak. Banyak ditengarai bahwa sekolah tradisional, yang menerapkan pembelajaran dengan cara-cara tradisional, telah menghambat proses belajar mengajar, dan tidak sesuai dengan prinsip alami ini.

Terkait dengan cara kerja struktur dan fungsi otak, terdapat beberapa prinsip brain-based learning yang sangat penting untuk diketahui oleh para pendidik.

  • Otak memproses beberapa aktivitas dalam waktu bersamaan. Ketika seseorang sedang makan, secara simultan otak memproses kegiatan mulut untuk mengunyah, lidah untuk mengecap, dan hidung untuk mencium bau makanan.
  • Otak memproses informasi secara keseluruhan dan secara bagian per bagian dalam waktu bersamaan (simultan). Keteka seorang anak belajar naik sepeda, aspek motorik, kognitif dan emosi anak terlibat secara bersamaan. Dengan demikian anak akan lebih cepat menguasai ketrampilan ini, daripada hanya memperoleh teori saja, yang hanya ditumpukan pada aspek kognitif.
  • Proses pembelajaran melibatkan seluruh aspek fisiologi manusia secara alami otak selalu mencari makna atau arti dalam setiap informasi yang diterimanya. Otak akan memproses lebih lanjut informasi yang bermakna, namun tidak demikian dengan informasi yang tidak bermakna.
  • Faktor emosi sangat mempengaruhi proses belajar.
  • Motivasi belajar akan meningkat bila diberikan sesuatu yang menantang, dan akan terhambat bila diberikan ancaman.
  • Manusia akan lebih mudah mengerti dengan diberikan fakta secara alami, atau ingatan spasial (bentuk atau gambar).[8]

 

Terdapat tiga dimensi yang harus dipahami dalam konsep DAP, yaitu:

1)      Patut Menurut Umur

Dalam dimensi ini pendidik diharapkan memahami tahapan perkembangan anak secara kronologis. Pemahaman tentang hal ini dapat menjadi bekal bagi pendidik untuk mengetahui aktivitas, materi, pengalaman, dan interaksi sosial apa saja yang sesuai, menarik, aman, mendidik, dan menantang bagi anak. Hal ini sangat penting sebagai acuan dalam merancang dan menerapkan kurikulum, serta menyiapkan lingkungan belajar yang patut dan menyenangkan bagi anak.

2)      Patut Menurut Lingkungan Sosial dan Budaya

Pemahaman pendidik terhadap latar belakang sosial budaya anak dapat dijadikan sebagai acuan bagi guru dalam mempersiapkan materi pembelajaran yang relevan dan bermakna bagi anak. Di samping itu, pendidik juga dapat mempersiapkan anak secara lebih dini untuk menjadi individu yang dapat beradaptasi dengan lingkungan sosial budayanya.

3)      Patut Menurut Anak sebagai Individu yang Unik

Pendidik juga harus memahami bahwa setiap anak merupakan pribadi yang unik, dimana ia membawa bakat, minat, kelebihan dan kekurangan, serta pengalaman masing-masing. Pendidik harus mempersiapkan diri untuk menghadapi keunikan masing-masing anak dalam berinteraksi.[9]

Meskipun DAP ini telah menjadi isu besar sejak lebih dari 20 tahun yang lalu, namun masih menjadi pertanyaan besar, apakah para guru dan orangtua sudah memahami dan mampu menerapkan? Bagaimanakah dengan kondisi pembelajaran Pendidikan Agama pada anak usia dini yang ada sekarang? Sudahkan sesuai dengan prinsip-prinsip DAP? Beberapa pertanyaan ini menjadi sedemikian penting mengingat Pendidikan Agama merupakan merupakan elemen penting dalam kurikulum sekolah. Pendidikan agam akan memberikan pondasi awal bagi keseimbangan tumbuh kembang anak (psiko-fisik). Namun demikian, karakteristik materi yang masih sangat normative, minimnya jam, saratnya materi, tantangan perkembangan IPTEK, seringkali menjadi kendala tersendiri bagi guru dalam penyampaiannya. Berbagai kendala tersebut tentu tidaklah tepat dijadikan sebagai alasan pembenaran jika Pendidikan Agama tidak mampu mewujudkan harapan masyarakat, khususnya terhadap anak-anak mereka. 

  1. C.    PAI UNTUK ANAK USIA DINI

 

Pendidikan Anak Usia Dini merupakan pendidikan yang menentukan terbentuknya kepribadian anak yang patut, utuh dan optimal. Program pendidikan ini diharapkan dapat menyiapkan anak untuk masa depannya dengan tumbuh-kembang yang sempurna baik secara fisik maupun psikis. Jika anak pada usia dini tidak mendapatkan layanan yang baik, dikhawatirkan akan berdampak kepada terhambatnya pertumbuhan dan perkembangannya.

Proses pendidikan usia dini terjadi sejak anak dalam kandungan (secara tidak langsung), masa bayi hingga anak berumur kurang lebih depalan tahun. Batasan usia ini dimaksudkan sampai anak memasuki Sekolah Dasar awal/ tingkat rendah, yaitu kelas I sampai III. Adapun materi kegiatannya dapat berkaitan dengan agama, budi pekerti, etika, moral, toleransi, ketrampilan, gotong-royong, keuletan, kejujuran dan sifat-sifat lainnya. [10]

1. Karakteristik Anak Usia Dini

Perkembangan anak pada usia dini tentu sangat berbeda dan unik dibandingkan dengan masa-masa perkembangan yang lain. Pengenalan dan pemahaman yang baik terhadap karakteristik anak usia ini akan sangat membantu upaya mendidik anak secara patut. Masa usia 3-5 tahun anak akan mengalami beberapa masa yakni

  1. Masa Berkelompok

Pada masa ini anak tumbuh dalam kelompok-kelompok tertentu untuk mempelajari dasar-dasar berperilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi, dimana hal ini diperlukan agar anak dapat menyesuaikan diri pada saat mereka memasuki jenjang Sekolah Dasar.

  1. Masa Penjelajahan

Masa ini menunjukkan bahwa dalam diri anak tumbuh keinginan yang sangat kuat untuk mengetahui segala sesuatu yang terdapat di sekelilingnya, yang menyangkut, bagaimana  mekanismenya, bagaimana perasaannya dan bagaimana ia dapat menjadi bagian dari lingkungan. Adapun cara yang paling umum untuk menjelajah adalah dengan bertanya tentang segala sesuatu. Karena itu, masa ini juga sering disebut dengan masa bertanya.

  1. Masa Meniru

Masa meniru merupakan masa peka untuk mengidentifikasi diri dan meniru orang-orang yang ada di sekitarnya, seperti meniru ucapan, tindakan baik yang baik maupun yang buruk.

  1. Masa Kreatif

Hal yang paling menonjol yang terjadi dalam masa kanak-kanak atau usia dini adalah munculnya berbagai bentuk kreativitas dalam bermain. Bentuk kreativitas anak pada usia ini diyakini oleh para ahli sebagai bentuk kreativitas yang paling original, dengan frekuensi kemunculannya yang seolah tanpa kendali, dibandingkan dengan masa-masa lain dalam kehidupan seorang anak setelah masa ini berlalu.[11]

Sedangkan usia 6-8 tahun dipandang sebagai masa peralihan dari pra sekolah (pre-operational concrete) menuju sekolah dasar (concrete operational thinking). Masa ini disebut pula sebagai masa peralihan dari kanak-kanak awal ke masa kanak-kanak akhir, sampai menjelang masa pra pubertas. Fokus perkembangan pada masa ini adalah penguasaan terhadap ketrampilan dasar, baik yang bersifat akademis pada tingkat awal (membaca, menulis dan berhitung), maupun yang bersifat non akademis yang mencakup aspek-aspek moralitas, kedisiplinan serta konsep diri yang merupakan perilaku dan menjadi lebih mandiri.[12]

Tentunya secara fisik, pertumbuhan anak pada usia 6-8 tahun ini relative lebih baik. Pertuimbuhan fisik lebih pesat dan kuat, kondisi kesehatan akan lebih baik, artinya mereka lebih tahan terhadap gangguan situasi sekitar yang menyebabkan gangguan kesehatan. Perkembangan rohoni juga semakin stabil, lebih dapat bersosialisasi dengan teman dan lingkungannya. Keinginan untuk menjelajah alam sekitanyapun semakin besar dan lebih terfokus, seiring perkembangan daya nalar yang telah memasuki tahap pra operasional.

Namun demikian perhatian secara serius dari orangtua dan guru terhadap anak usia dini (3 – 8 tahun) ini tetap harus maksimal, dalam upaya membantu tumbuh kembang mereka secara optimal. Diabaikannya pertumbuhan dan perkembangan usia dini akan berdampak buruk bagi anak dalam menghadapi tugas-tugas perkembangan pada masa-masa berikutnya.

 

2. Pendidikan Agama bagi Anak Usia Dini

Agama merupaka factor penting dalam kehidupan individu. Secara ruhaniah manusia memerlukan suatu pedoman yang dapat mengarahkan mereka kepada kehidupan yang lebih baik. Ada hal-hal yang tidak mampu terjawab oleh diri manusia, karenanya ia memerlukan petunjuk dari Dzat yang menciptakan dirinya.

Islam merupakan agama dan sistem nilai yang paripurna. Ia memuat prinsip-prinsip pokok bagi tertatanya kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Karenanya, upaya memberikan pendidikan agama Islam kepada generasi penerus dirasakan menjadi sebuah kebutuhan yang tak terelakkan.

Pendidikan Agama Islam adalah upaya mendidikkan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan hidup) seseorang yang diwujudkan melalui segenap kegiatan yang dilakukan seseorang atau suatu lembaga untuk membantu seseorang atau sekelompok peserta didik dalam menanamkan dan atau menumbuhkembangkan ajaran-ajaran Islam dan nilai-nilainya.[13] Pembelajaran Pendidikan Agama Islam diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman ajaran Islam dari peserta didik. Disamping itu juga ditujukan untuk membangun kualitas kesalehan pribadi maupun sosial. Kualitas pribadi ini diharapkan dapat direfleksikan dalam keseharianterhadap sesama (bermasyarakat), baik yang seagama (sesama muslim) maupun yang berlainan agama, dalam berbangsa dan bernegara. Dengan upaya itu diharapkan akan terwujud persatuan dan kesatuan nasional (ukhuwah wathaniyah) maupun dengan sesama manusia (ukhuwah insaniyah).[14]

Sedangkan menurut Arif Armai, Pendidikan Islam sebagai suatu proses pengembangan potensi kreatifitas peserta didik, bertujuan untuk mewujudkan manusia yang beriman, dan bertaqwa kepada Allah SWT, cerdas, terampil, memiliki etos kerja yang tinggi, berbudi pekerti luhur, mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya, bangsa dan negara serta agama.[15] 

Ruang lingkup dan cakupan pendidikan agama Islam untuk anak usia dini tentu berbeda dan lebih spesifik dibandingkan dengan remaja dan orang dewasa. Diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang cermat dalam memilih materi serta menentukan strategi pendekatan yang tepat. Hal ini didasarkan kepada pertimbangan bahwa tingkat pemahaman anak pada usia ini masih terbatas, sehingga dibutuhkan strategi tersendiri. Setidaknya terdapat dua kelompok besar bidang pengembangan dalam pendidikan agama Islam untuk usia dini, yaitu bidang pembentukan perilaku melalui pembiasaan dan pengembangan moral dan nilai-nilai agama. Adapun ruang lingkup PAI untuk anak usia dini dapat dijabarkan sebagai berikut:

Tabel  1

Ruang Lingkup PAI pada Pendidikan Anak Usia Dini

Bidang Pengembangan Kompetensi Dasar  

Hasil Belajar

 

Indokator

Pembentukan  Perilaku-perilaku melalui pembiasaan Anak mampu mengucapkan bacaan doa/lagu-lagu keagamaan, meniru gerakan beribadah serta mengikuti aturan Dapat berdoa dan menyanyikan lagu-lagu keagamaan secara sederhana
  • Berdoa sebelum dan sesudah melaksanakan kegiatan
  • Menyanyikan lagu-lagu keagamaan yang sederhana

 

    Dapat mengenal bermacam-macam agama
  • Menyebutkan tempat-tempat ibadah
  • Menyebutkan hari-hari besar agama
    Mengenal ibadah secara sederhana menurut keyakinannya
  • Meniru pelaksanaan kegiatan ibadah secara sederhana
  • Menyebutkan waktu beribadah
    Mengenal dan menyayangi ciptaan Tuhan
  • Menyebutkan ciptaan-ciptaan Tuhan misalnya; manusia, bumi, langit, tanaman dan hewan.
    Memiliki sopan santun dan mengucapkan salam
  • Mengucap salam
  • Selalu bersikap ramah
  • Berterima kasih jika memperoleh sesuatu
  • Meminta tolong dengan baik
  • Tidak mengganggu teman yang sedang melakukan/ melaksanakan kegiatan ibadah
    Mulai tumbuh disiplin diri
  • Melaksanakan tata tertib yang ada di sekolah
  • Mengikuti peraturan permainan
    Mulai dapat bersikap/berperilaku saling menghormati
  • Mau mengalah
  • Mengikuti peraturan permainan
    Bersikap ramah
  • Berbahasa sopan dalam berbicara
  • Tidak lekas marah/ membentak-bentak
    Tumbuhnya sikap kerjasama dan persatuan
  • Mudah bergaul/ berteman
  • Suka menolong teman
  • Saling membantu sesama teman
    Mulai dapat menunjukkan rasa percaya diri
  • Mampu melaksanakan tugas sendiri
  • Menunjukkan kebangggaan terhadap hasil karyanya.
    Mulai menunjukkan kepedulian
  • Menggunakan barang orang lain dengan hati-hati
  • Mau membagi meiliknya misalnya; mainan, makanan dll.
  • Meminjamkan miliknya dengan senang hati
    Dapat menjaga kebersihan diri dan mengurus dirinya sendiri
  • Membersihkan diri sendiri dengan bantuan , misalnya; menggosok gigi, mandi, buang air dll.
  • Mengurus dirinya sendiri dengan sedikit bantuan misalnya; berpakaian atau makan sendiri

 

    Dapat menjaga lingkungan
  • Mengembalikan mainan pada tempatnya setelah digunakan
  • Membuang sampah pada tempatnya
  • Membantu membersihkan lingkungan
    Mulai dapat menunjukkan emosi yang wajar dan mengendalikan tindakan dan perasaannya
  • Mau berpisah dengan ibu tanpa menangis
  • Sabar menunggu giliran
  • Berhenti bermain pada waktunya
  • Dapat dibujuk
  • Tidak cengeng
    Berlatih untuk selalu tertib dan patuh pada peraturan
  • Mau menerima tugas
  • Mengerjakan tugas sampai selesai
Pengembangan moral dan nilai-nilai agama Anaka percaya akan ciptaan Allah dan mencintai sesama Anaka dapat berdoa
  • Berdoa sebelum dan sesudah memulai kegiatan (misalnya belajar, makan, tidur dll.)
    Anak dapat mengenal ibadah secara sederhana
  • Meniru pelaksanaan ibadah agama
    Anak dapat menyayangi dan memelihara semua ciptaan Tuhan
  • Menyayangi dan memelihara semua ciptaan Tuhan
  • Cinta antara sesama suku bangsa Indonesia
  • Mengenal arti kebersamaan dan persatuan
    Anak dapat mengenal sopan santun
  • Mengenal sopan santun dengan berterima kasih
  • Mengucapkan salam bila bertemu dengan orang lain
  • Rapi dalam bertindak, berpakaian dan bekerja
  • Mengenal konsep benar dan salah
    Anak dapat mengenal tanggung jawab
  • Dapat mengurus dirinya sendiri
  • Bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan
    Anak dapat mengenal kebersihan
  • Menjaga kebersihan diri
  • Menjaga kebersihan lingkungan
    Anak dapat mencintai tanah air
  • Mengenal bendera
  • Mengenal suku bangsa, pakaian, rumah adat, tarian
    Anak dapat mengenal musyawarah dan mufakat secara sederhana
  • Dapat memutuskan sesuatu secara sederhana melalui musyawarah dan mufakat

 

Tabel tersebut memaparkan secara jelas dan rinci kompetensi dasar, hasil belajar dan indikator yang harus dicapai dalam pembelajaran PAI untuk anak usia dini. Menu pembelajaran tersebut telah didasarkan kepada perkembangan anak pada usia dini. Orangtua maupun guru sebagai pendidik formal di sekolah tentu diharapkan dapat mengikuti rambu-rambu tersebut dalam upaya memaksimalkan pembelajaran PAI sesuai taraf tumbuh kembang anak.

  1. 3.      Implementasi DAP dalam PPAI untuk Anak Usia Dini

Untuk dapat mengimplementasikan DAP secara baik tentu harus berangkat dari  analisis kebutuhan anak usia dini. Pada rentang 3-5 tahun, anak mulai memasuki masa prasekolah yang merupakan masa persiapan untuk memasuki pendidikan formal yang sebenarnya di sekolah dasar. Masa ini perkembangan kognitif anak masuk dalam perkembangan berpikir pra-operasional kongkrit.

Masa ini ditandai dengan masa peka terhadap segala rangsangan yang diterimanya melalui panca indera. Karenanya, guru dan orangtua harus menyikapi datangnya masa peka ini dengan memberikan stimulasi yang tepat, agar mempercepat penguasaan anak terhadap tugas-tugas perkembangan pada usianya.

Sedangkan untuk anak usia 6-8 tahun tentu memiliki kebutuhan tersendiri dibandingkan periode sebelumnya. Secara spesifik analisis kebutuhan anak pada periode ini dapat dijabarkan dalam table berikut ini,

Tabel 3

Analisis Kebutuhan Anak Usia 6 – 8 tahun

Moral/Agama
  • Anak berbuat baik karena ingin mendapat pujian.
  • Anak sudah dapat menyesuaikan diri sengan yang diinginkan kelompok sosialnya dan mana yang harus dijauhi.
  • Anak patuh terhadap tuntutan atau aturan orangtua dan lingkungan sosialnya,
Konsep diri
  • Menjadi lebih mandiri dalam banyak hal dan situasi.
  • Pengaruh guru dan teman sebaya sangat besar
  • Adanya perubahan nilai
  • Menyendiri dan tertutup
  • Mulai muncul perilaku sesuai dengan perannya kelak, seperti anak perempuan bersifat keibuan
  • Mulai suka pamer, membanggakan diri atas karya yang dihasilkan
Disiplin
  • Bangun pagi dan tidur malam pada jam-jam rutin
  • Membuat perarturan/ tata tertib di rumah secara menyeluruh
  • Teratur dalam rutinitas seperti; berangkat dan pulang sekolah, merapikan peralatan sekolah dan merapikan pakaian

 

Dasar pemikiran sebagaimana diuraikan di atas tentu telah cukup memberikan gambaran bagi para pendidik, tentang betapa penting atensi terhadap konsep DAP dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak. Pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan senantiasa memperhatikan konsep DAP akan membawa hasil yang lebih baik dan optimal.

Terdapat beberapa prinsip penting yang harus dipahami dalam penerapan DAP.

1)      Kurikulum harus dapat mencakup pengembangan seluruh dimensi tumbuh kembang anak; fisik, spiritual, kognitif, emosional, sosial secara terpadu (integrated). Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa belajar yang efektif bukanlah belajar yang sempit dan terfragmentasi (satu mata pelajaran), namun harus dengan cara terintegrasi.

2)      Pendidik harus mampu memodifikasi kurikulum sesuai tuntutan perubahan dari waktu-ke waktu. Karenanya, pendidik dituntut untuk mengenal secara baik kekuatan, bakat, minat, kebutuhan maupun latar belakang keluarga masing-masing anak.

3)      Proses belajar mengajar harus berjalan aktif dan interaktif. Partisipasi aktif anak harus ditumbuhkan melalui kegiatan eksplorasi dan interaksi, baik dengan para guru maupun kawan-kawannya. Pendidik tidak menggunakan standar orang dewasa dalam mengevaluasi aktivitas anak. Biarkan anak memandu dirinya sendiri dalam mencari solusi, sehingga ketika mereka berhasil menyelesaikan persoalan, akan tumbuh kepercayaan diri yang akan memotivasi semangat belajar mereka.

4)      Dalam kegiatan belajar mengajar harus menggunakan material yang konkrit, nyata serta relevan dengan kehidupan anak. Dalam bermain, anak akan melakukan eksplorasi konsep, sehingga secara perlahan akan mengerti konsep abstrak melalui simbol-simbol. Penggunaan gambar-gambar dan cerita dilakukan sesering mungkin, agar anak memperoleh pengalaman nyata. Sementara penggunaan buku-buku kerja atau LKS, buku mewarnai, model gambar yang dibuat oleh orang dewasa adalah tidak cocok bagi anak di bawah usia 6 tahun. Kunci keberhasilannya adalah partisipasi aktif anak dalam memandu diri sendiri, terlibat aktif dalam kegiatan yang konkrit, pengalaman hidup yang nyata, karena semua ini dapat memotivasi anak.

5)      Pendidik harus siap melayani ketertarikan anak terhadap hal-hal baru yang terkadang di luar tahapan kronologis mereka. Hal ini dimungkinkan akibat kebosanan terhadap model-model permainan yang telah mereka kuasai, dan dianggap kurang menantang. Termasuk ketertarikan kepada produk teknologi mutakhir/ canggih seperti game elektronik, handphone, dan sebagainya.

6)      Pendidik harus mengetahui kapan saat anak diberikan kegiatan atau permainan yang lebih menantang, karena bila anak telah menguasai suatu permainan akan menjadikan mereka bosan. Hal ini bisa dilakukan dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan, usulan-usulan, atau menambahkan material yang lebih kompleks.[16]    

Ketika berbicara tentang konsep DAP, maka akan sampai pada sebuah kesimpulan apakah pembelajaran yang dilakukan itu patut ataukah tidak. Tentu parameter ini harus didasarkan kepada tiga pilar pokok DAP, yaitu patut menurut umur, patut menurut lingkungan sosial dan budaya serta patut secara individual.

Pendidikan Agama Islam memiliki karakteristik tersendiri dibandingkan dengan materi lain. Banyak dimensi agama yang masih merupakan konsep abstrak, khususnya bagi anak. Tentunya diperlukan strategi pembelajaran khusus untuk menannamkan pemahaman kepada anak usia dini tentang konsep-konsep dalam agama Islam. Implementasi konsep DAP dalam Pendidikan Agama Islam dapat dikembangkan melalui beberapa model berikut ini,

1) Pembelajaran Integratif

Suatu prinsip yang seharusnya dianut dalam pendidikan islam adalah bahwa dunia merupakan jembatan menuju kampung akhirat. Perilaku yang terdidik dan nikmat Tuhan apapun yang didapat dalam kehidupan harus diabdikan untuk mencapai kelayakan-kelayakan terutama dengan mematuhi kemauan Tuhan. Salah satu ayat Al Quran menyebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara utuh …” (Q.S. al-Baqarah [2]: 208. Ayat tersebut memerintahkan kepada manusia agar tidak mengembangkan dirinya secara parsial atau setengah-setengah. Pengembangannya harus terintegrasi untuk mencapai hasil yang diinginkan.[17]

Ketika berbicara tentang agama, maka konsep paling awal yang seringkali dipertanyakan oleh anak adalah konsep tentang keberadaan Tuhan. Guru maupun orang tua seringkali dibuat kebingungan atas pertanyaan-pertanyaan tak terduga yang muncul dari anak menyangkut konsep Tuhan.

Menurut Hamdan Rajih, upaya membimbing anak menuju akidah yang benar dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

a)         Senantiasa menannamkan rasa syukur yang dalam, karena dengan pengungkapan rasa syukur ini akan memperkenalkan anak kepada Dzat yang telah memberikan (al-Mun’im). Dengan rasa syukur ini, akan terbentuk konsep bahwa orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan dapat memberikan sesuatu kepada oranag lain. Pada gilirannya akan tumbuh pula rasa kasih sayang kepada orang lain.

b)      Membangkitkan potensi fitrah, berangkat dari pengakuan serta percaya kepada Allah akan melahirkan pengertian bahwa jiwa manusia, pada hakikatnya memiliki kecenderungan serta senang kepada kebaikan, serta tidak senang dan ingin menghindari kejahatan. Karena itu orang tua ataupun pendidik harus senantiasa mengarahkan kecenderungan anak tersebut ke arah kebaikan sedini mungkin.

c)        Memperkenalkan nikmat-nikmat Allah kepada anak sejak dini, dimanapun dan kapanpun. Sebagai langkah pertama orang tua bisa memperkenalkan anak kepada hal-hal yang terkait langsung dengan diri mereka, dan selanjutnya kepada hal-hal yang lebih kompleks.

d)     Menanamkan perasaan Muraqabatullah (merasa selalu dipantau oleh Allah) di dalam jiwa anak. Kepada anak harus ditanamkan pengertian bahwa segala sesuatu di alam raya ini berada di bawah kendali atau pengaturan Allah. Segala sesuatu berjalan sesuai hukum dan peraturan Allah. Pada saat itulah mulai ditanamkan satu bentuk ibadah yaitu muraqabatullah; perasaan bahwa Allah tidak pernah lalai memantau segala aktivitas manusia. Dan, pada masa-masa berikutnya orangtua mengajarkan berbagai bentuk ibadah kepada Allah.

e)        Mengajarkan Al-Quran sebagai pedoman utama umat Islam. Langkah ini bisa dimulai dengan mengajarkan membaca Al-Quran serta hafalan surat-surat pendek khususnya al-Fatihah, dan al-Mu’awwizatain (al-Nas dan al-Falaq) serta al-Ikhlas. Disamping itu ajarkan kandungan makna yang terdapat dalam surat-surat pendek tersebut.[18]

Beberapa yang dikemukakan di atas merupakan pendidikan awal yang harus dilakukan oleh orangtua maupun pendidik sebagai fondasi akidah bagi anak. Beberapa aspek tersebut hendaknya dapat diterapkan secara integrative dalam setiap aktivitas yang dilalui oleh anak. Dengan demikian diharapkan akan muncul pemahaman yang utuh terhadap konsep-konsep agama.

Dengan pendekatan ini diharapkan akan terus meningkatkan kemantapan akidah serta kegemaran ibadah pada perkembangan selanjutnya. Namun demikian pantauan dan bimbingan secara kontinu dari orangtua serta guru harus tetap dijalankan.

Masih dalam hal akidah, pengenalan awal tentang konsep Tuhan kepada anak usia dini memang menjadi kajian yang perlu mendapat perhatian cukup serius. Menurut Stoppard (1997) Proses terbentuknya konsep Tuhan pada anak umumnya dipahami sebagai proses transformasi (pengalihan) gagasan dari orang dewasa kepada anak-anak. Tuhan dipahami anak-anak karena lingkungan memberi pemahaman kepadanya. Realitas Tuhan memang tidak tampak dan belum pernah dilihat anak. Walaupun demikian gagasan mengenai Tuhan dan keberadaan-Nya mau tidak mau akan diterima anak karena seluruh lingkungan dimana anak tinggal sepertinya tidak ada yang tidak mengenal Tuhan.[19]

Adanya anggapan bahwa proses terbentuknya konsep Tuhan pada anak hanya terjadi karena proses transformasi gagasan semata, seringkali membuat orangtua dan guru memahami bahwa pendidikan agama itu dilangsungkan dengan jalan mentransfer sebanyak mungkin pengetahuan agama dan Tuhan pada anak. Pengajaran agama akhirnya cenderung ditekankan pada aspek kognitif.[20] Pendidikan agama akhirnya terjebak kepada praktek penyampaian dogma atau pengetahuan tentang agama yang harus diterima tanpa sikap kritis.

Kegagalan pendidikan agama mungkin tidak akan terjadi jika pemahaman mengenai terbentuknya konsep Tuhan pada anak bukan hanya dipahami sebagai proses transformasi gagasan semata. Menurut Goldman (1964) proses terbentuknya pemikiran religius pada anak akan dihasilkan dari proses generalisasi terhadap berbagai pengalaman, persepsi terdahulu, dan berpegang pada konsep yang telah ada untuk mengetahui aktivitas dan sifat-sifat dasar Tuhan. Misalnya ada pernyataan bahwa, Tuhan Mahadekat, DIa ada di segala tempat” maka ketika anak memahami pernyataan tersebut akan menggunakan konsep pengetahuan yang telah ia miliki. Anak akan menerapkan konsep ruang dan waktu, jarak dan bilangan, secara fisik lahiriyah, sebagaimana misalnya kedekatan dia kepada orangtua.[21]   

Jika orangtua atau guru mengajarkan kepada anak tentang aturan/perintah dan larangan di dalam agama, akan lebih bermakna jika kepada anak dikenalkan pula tentang kasih sayang Tuhan, mengapa Tuhan memerintahkan suatu perbuatan dan menyeru kepada manusia untuk menjauhi perbuatan jahat, dan juga hikmah dari segala penciptaan. Jika hal ini dilakukan, tentu anak akan lebih menyukai, serta akan lebih medorong pemahaman dan wawasan anak tentang ajaran agama. Dan pada gilirannya akan tumbuh penghayatan dan pengamalan yang paripurna terhadap pelajaran agama.

Menurut Hurlock, untuk membuat anak kecil mengerti agama, konsep keagamaan diajarkan dalam bahasa sehari-hari dan dengan contoh dari kehidupan sehari-hari. Dengan demikian konsep-konsep menjadi konkrit dan realistis. Hurlock juga menambahkan bahwa pada rentang usia dini, kebanyakan anak mulai bertanya tentang agama, misalnya “Siapakah Tuhan?”, “Dimana letak surga itu?” dan lain sebagainya.[22]

Integrasi pendidikan agama Islam dalam setiap aktivitas anak akan menumbuhkan pemahaman yang komprehensif tentang makna agama. Pada gilirannya, agama tidak dipahami sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan duniawiah, dari kegiatan sehari-hari. Jika agama memiliki makna dalam kehidupan anak, maka akan tumbuh bentuk kesalehan individual dan kesalehan sosial secara bersamaan.

2) Pembelajaran Tematik

Strategi pembelajaran Tematik merupakan pilihan strategi yang baik dalam pembelajaran anak usia dini. Strategi ini dalam praktiknya mencoba melibatkan beberapa bidang pengembangan, yang bertujuan memberikan pengalaman yang lebih bermakna kepada anak. Keterpaduan strategi pembelajaran ini tercermin dari aspek proses, kurikulum dan proses belajar mengajarnya. Strategi ini diterapkan kepada anak usia dini dikarenakan pada umumnya anak masih melihat segala sesuatu sebagai satu keutuhan (holistic). Mengapa demikian? Pertumbuhan fisik anak tidak dapat dipisahkan dari perkembangan mental, sosial dan emosionalnya.

Pembelajaran tematik dimaksudkan agar pelaksanaan kegiatan pembelajaran menjadi lebih bermakna dan utuh. Dalam strategi ini guru dituntut mampu dan cermat dalam memilih tema yang terdekat dengan keseharian dan lingkungan anak. Hal yang perlu diperhatikan dalam penerapan strategi pembelajaran tematik ini, guru harus mengutamakan kompetensi dasar yang akan dicapai daripada tema. Dalam pelaksanaannya, strategi pembelajaran ini perlu memperhatikan beberapa hal antara lain, alokasi waktu masing-masing tema, mempertimbangkan banyak-sedikitnya bahan/sumber belajar yang terdapat dilingkungan sekitar.[23]           

Sesuai tahap perkembangan fisik maupun spikis anak usia empat hingga enam tahun, pembelajaran pada tahap ini memiliki ciri-ciri khusus sebagai berikut :

  1. Berpusat pada anak.
  2. Memberikan pengalaman langsung pada anak.
  3. Pemisahan bidang pengembangan tidak begitu jelas.
  4. Menyajikan konsep dari berbagai bidang pengembangan dalam satu proses pembelajaran.
  5. Bersifat fleksibel atau luwes.
  6. Hasil pembelajaran dapat berkembang sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.

Adapun kekuatan pembelajaran tematik adalah :

  1. Pengalaman dan kegiatan belajar relevan dengan tingkat perkembangan dan kebutuhan anak,
  2. Menyenangkan karena bertolak dari minat dan kebutuhan anak,
  3. Hasil belajar akan bertahan lebih lama karena lebih berkesan dan bermakna,
  4. Mengembangkan ketrampilan berpikir anak dengan permasalahan yang dihadapi,
  5. Menumbuhkan ketrampilan sosial dalam bekerjasama, toleransi, komunikasi, dan tanggap terhadap gagasan orang lain.[24]

Strategi pembelajaran tematik lebih mengutamakan pengalaman belajar anak.Strategi ini mengupayakan belajar sebagai aktivitas yang menyenangkan dan bersahabat namun tetap bermakna bagi anak. Karenanya, anak tidak perlu dipaksa ataupun didrill. Biarkan anak belajar melalui pengalaman nyata yang menghubungkan konsep/tema yang satu dengan tema yang lain yang sudah mereka pahami sebelumnya. Strategi ini akan menciptakan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak dan perkembangan anak.

Beberapa langkah konkrit dalam menyusun pembelajaran tematik ini antara lain,

  1. Penentuan tema besar yang akan menjadi focus utama, misalnya tentang “Aku”
  2. Membuat model keterpaduan tema dalam satu kurun tertentu, misalnya satu semester atau satu tahun, dengan menggunakan prinsip dari tema yang terdekat dengan anak, konkrit dan sederhana.
  3. Tuangkan semua sub tema yang mungkin dapat dihubungkan dengan tema utama, misalnya identitas, panca indera, hobi, sekolah dan sebagainya
  4. Jumlah sub tema dapat disesuaikan dengan keluasan cakrawala pengetahuan yang dimiliki guru.
  5. Buat skala prioritas urutan sub tema dari yang terdekat, mudah dikenali anak berdasarkan pertimbangan kebutuhan untuk segera dibelajarkan kepada anak.
  6. Selanjutnya, guru bisa menjabarkan lagi masing-masing sub-sub tema tersebut, sehingga setiap sub tema memiliki cabang pengetahuan yang membangunnya, misalnya; sub tema “Agama” dikembangkan lagi ke dalam sub-sub; Tuhanku, Nabi, Yang baik dan yang buruk, Malaikat, Ibadah, dan sebagainya.
  7. Dalam mengembangkan sub tema seperti pada butir f, guru dapat menggunakan metode curah pendapat (brainstorming), misalnya sub AKU dan IDENTITASKU, guru bisa mengembangkan suruh pendapat terhadap aspek-aspek seperti; sifatku, ciri-ciriku, kemampuanku, kepunyaanku, dan sebagainya.
  8. Setelah seluruh sub tema dikembangkan, buatlah alokasi tema berdasarkan waktu/ jumlah tatap muka dalam kurun waktu yang telah ditentukan. Perhatikan juga keluasan masing-masing tema dalam menentukan durasi yang digunakan.
  9. Kembangkan model keterpaduan tema, hasil belajar, indikator.[25]

Penerapan strategi pembelajaran integrative dan tematik ini sangat mungkin untuk materi PAI. Strategi ini jika dikembangkan secara cermat sangat sesuai dengan prinsip-prinsip yang dikehendaki oleh konsep DAP. Tentunya penerapannya harus dibarengi dengan pengetahuan dan pemahaman terhadap cara-cara yang patut dan menyenangkan untuk anak usia dini sebagaimana dipaparkan dalam tabel 3.

Penerapan strategi yang baik dan tepat dibarengi dengan perhatian terhadap hal-hal yang patut untuk dilakukan dalam praktik pendidikan anak usia dini, akan menghasilkan pembelajaran yang berhasil, menyenangkan dan bermakna bagi anak maupun guru.

D. KESIMPULAN

Penerapan prinsip-prinsip DAP dalam upaya menciptakan pembelajaran yang patut, menyenangkan dan bermakna bagi anak usia dini merupakan sebuah kemutlakan. Hal ini kakan membawa dampak positif bagi tumbuh kembang anak di masa mendatang.

Sisi-sisi psikologis yang menjadi sorotan perhatian dari prinsip DAP ini dapat membantu guru menciptakan pembelajaran yang tidak “kering” namun lebih bersahabat dengan kejiwaan dan keseharian anak didik.

Tentunya pemahaman yang baik terhadap prinsip-prinsip Developmentally Appropriate Practice ini wajib dimiliki oleh guru, khususnya guru PAI. Upaya peningkatan kapasitas dan kompetensi baik personal, professional, pedagogis maupun sosial patut untuk terus diupayakan. Pemahaman yang baik terhadap anak didik, kerja sama kolegial antar kawan sejawat maupun kolaborasi harmonis dengan orangtua anak akan sangat membantu penciptaan suasana pembelajaran yang lebih kondusif dan bermakna.

Ibarat pisau, kapasitas dan kompetensi harus terus diasah atau dilatih agar menghasilkan kualitas pembelajaran yang maksimal. Tentu sebagai pendidik, melihat anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dengan segenap potensi yang mereka miliki menjadi kepuasan tersendiri. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

Alexander Sutherland Neill, 2007, Summerhill School, Pendidikan Alternatif yang Membebaskan, terj. Agung Prihantoro, Jakaerta: Serambi.

Ali Maksum, Luluk Yunan Efendi, 2004, Paradigma Pendidikan Universal, Yogyakarta: IRCiSoD.

Arif Armai, 2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam (Jakarta: Ciputat Pers.

Azyumardi Azra, 1999, Esei-Esei Intelektual Muslim Pendidikan Islam, Jakarta: Logoss.

Departemen Agama RI, 1986, Kurukulum Madrasah Diniyah, Dirjen Binbaga Islam, Jakarta.

Direktorat PADU,2001, Pedoman Pelaksanaan PADU, Jakarta: Direktorat Padu, Depdiknas.

Elizabeth B. Hurlock, 1999, Perkembangan Anak I, terj. Muschilah dkk., Jakarta: Erlangga.

Hamid Rajih, 2005, Spiritual Quotient for Children, Agar si Buah Hati Kuat Imannya dan Taat Ibadahnya, terj. Abdul Wahid Hasan, (Yogyakarta: Diva Press.

Jaudah Muhammad Awwad, 1995, Mendidik Anak secara Islami, terj. Manhaj al-Islam fi Tarbiyah al-Atfal oleh Shihabuddin, Jakarta: Gema Insani Press.

Muhaimin dkk., 2002,  Paradigma Pendidikan Islam  (Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama di Sekolah), Bandung: Rosda Karya.

Munzir Hitami, 2001, Mengonsep Kembali Pendidikan Islam, (Riau: Infinite Press.

Nugroho, 2004, Era baru Menuju Pendidikan Bermutu, Semarang: UNNES..

Psikologika, 2006, Nomor 21 Tahun XI Januari.

Ratna Megawangi, et. Al., 2004, Pendidikan yang Patut dan Menyenangkan: Penerapan Teori Developmentally Appropriate Practice (DAP), (Jakarta: Indonesian Heritage Fondation.

Rebecca Novick, 2004, Developmentally Appropriate and Culturally Responsive Education:Theory in Practice, Oregon, Child and Family Program.

Soegeng Santoso, 2004, Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Citra Pendidikan.

Sumadi Suryabrata, 2004, Psikologi Pendidikan, Jakarta: CV. Rajawali.

Yuliani Nurani Sujiono, 2005, Bambang Sujiono, Menu Pembelajaran Anak Usia Dini, Jakarta: Citra Pendidikan.


[1] Jaudah Muhammad Awwad,  1995, Mendidik Anak secara Islami, terj. Manhaj al-Islam fi Tarbiyah al-Atfal oleh Shihabuddin,  Jakarta: Gema Insani Press,  hlm. 1

[2] Peter Kline, dalam http://www.literacynet.org/diversity2/intro/howwelearn .html. Sebagaimana dikutip oleh Ratna Megawangi dkk. 2004, Pendidikan yang Patut dan Menyenangkan, Jakarta: Indonesia Heritage Poundation,  hlm. 2-3.

[3] Ibid., hlm. 5.

[4] Rebecca Novick, 1996, Developmentally Appropriate and Culturally Responsive Education:Theory in Practice, Oregon, Child and Family Program, hlm. 3.

 

[5] Ratna Megawangi, Op. Cit., hlm. 7

[6] Soegeng Santoso, Op. Cit.,, hlm. 51.

[7] Alexander Sutherland Neill,  2007, Summerhill School, Pendidikan Alternatif yang Membebaskan, terj. Agung Prihantoro, Jakaerta: Serambi,  hlm. 33.

[8] Ratna Megawangi, Op.Cit., hlm. 24-25.

[9] Ratna Megawangi, Op. Cit., hlm. 5

[10] Soegeng Santoso, 2005, Pendidikan Anak Usia Dini,  Jakarta: Citra Pendidikan,  hlm. 11

[11] Yuliani Nurani Sujiono,  2005, Bambang Sujiono, Menu Pembelajaran Anak Usia Dini, Jakarta: Citra Pendidikan, hlm. 133-134

[12] Ibid., hlm. 169.

[13]Muhaimin dkk.,  2002, Paradigma Pendidikan Islam  (Upaya Mengefektifkan Pendidikan Agama di Sekolah) (Bandung: Rosda Karya,  hlm. 30.

[14] Ibid, hlm. 76.

[15] Arif Armai,  2002, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam , Jakarta: Ciputat Pers, hlm. 3.

[16] Ratna Megawangi dkk., Op. Cit., hlm. 37-39.

[17] Munzir Hitami,  2001, Mengonsep Kembali Pendidikan Islam, Riau: Infinite Press,  hlm. 24-25.

[18]  Hamid Rajih,  2005, Spiritual Quotient for Children, Agar si Buah Hati Kuat Imannya dan Taat Ibadahnya, terj. Abdul Wahid Hasan, Yogyakarta: Diva Press,   hlm. 76-99.

[19] Psikologika,2006, Nomor 21 Tahun XI Januari, hlm. 5.

[20] Ibid.

[21] Ibid., hlm. 6.

[22] Elizabeth B. Hurlock, 1999, Perkembangan Anak I, terj. Muschilah dkk., Jakarta: Erlangga,  hlm. 138.

[23] Yuliani Nurani Sujiono, Op. Cit., hlm. 257-259.

[24] Ibid., hlm. 257-258.

[25] Ibid., hlm. 262-268.

Tentang abdulwahidilyas

abdul wahid, staf pengajar di Fak. Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, beralamat di Jl. Candi Prambanan VI/1444 Kalipancur Semarang
Pos ini dipublikasikan di Perkuliahan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s